Renungan Sabda: Luk 5: 1-11 (Kamis Pekan XXII-B)

[et_pb_section admin_label=”section”]
[et_pb_row admin_label=”row”]
[et_pb_column type=”4_4″]
[et_pb_text admin_label=”Text”]

Doa Pembuka

Ya Allah, saat aku mulai berdoa, aku merasa Engkau sedang melangkah dalam perahu kehidupanku. Aku berangkat menolakkan perakuku sedikit lebih jauh dari pantai, menjauh dari dari kegiatan harian, untuk mendengarkan sabda-Mu. Hanya Engkau dan aku, dan aku merasa Engkau hendak meminta sesuatu kepadaku. Aku merasa tidak pantas sekaligus bersyukur karena Engkau meluangkan waktu yang begitu pribadi dengan aku. Ya Kristus, bantulah aku untuk memahami dan memeluk panggilan-Mu pada kekudusan.

Renungan

       Yesus mengajar di tepi danau. Kita tahu bahwa ia mengajar di banyak tempat: di Bait Allah, Sinagoga, di tas gunung, dan di antara anak-anak. Hari ini  banyak orang mengerumi Dia di tepi pantai. Bagi orang-orang ini, danau adalah segalanya: air, makanan, transportasi, dan sebuah obyek yang cantik dan tempat permenungan. Di tengah kenyataan permukaan danau biru yang tenang dan dalam itu, mereka diajak untuk belajar lebih tentang   “danau” yang tidak mereka ketahui secara menyeluruh kedalamannya. Hal ini nampak saat Kristus menunjukkan kedalaman danau dan mengungkap sesuatu yang tidak mereka ketahui yaitu banyaknya misteri iman dan rencana Allah melalui peristiwa penangkapan ikan. Ia membantu kita memahami banyak hal yang sebenarnya adalah bagian dari hidup harian kita, meskipun dalam banyak cara tetap tidak familiar dan tidak mudah kita pahami. Petrus pun tidak memahami ajakan Yesus ketika diminta untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam dan berkata: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras, dan kami tidak menangkap apa-apa”. Melalui peristiwa penangkapan ikan di danau itu Ia mengajarkan bahwa kerja keras saja belum cukup dalam hidup ini. Kita masih memerlukan kerjasama dengan Allah. Kerja keras tanpa kerjasama hanya akan melahirkan kelelahan dan kehampaan.

         Kerumunan orang yang imempunyai sikap “ingin tahu” ini bagi Yesus menjadi moment untuk memotivasi mereka agar mereka berdedikasi dan mampu memaknai hidup mereka. Yesus tahu bahwa untuk mendapat seseorang yang mempunyai komitmen, tidak cukup hanya dengan memberikan cerita yang menarik. Sapaan dan perhatian pribadi amat diperlukan. Itulah sebabnya ia mendekati perahu Simon, memberi tugas sederhana kepada Simon untuk menolakkan perahunya sedikit lebih jauh dari pantai sambil berkata: “bertolaklah ke tempat yang lebih dalam.” Pada awalnya tugas yang diberikan Yesus tidaklah berat: mudah dikabulkan dan hanya membutuhkan kesediaan diri. Tetapi ketika kita membiarkan Dia menumpang di perahu kehidupan kita, Ia akan meminta sesuatu yang membutuhkan iman dan mungkin melawan akal budi dan kenyamanan pribadi. Kita menginginkan Krisus memenangkan kita demi kebaikan, tetapi bagaimana hal itu mungkin terjadi kalau kita tidak membiarkan Dia  menjadikan kita sebagai seorang penumpang yang bersedia memasuki kedalaman. Bersama Dia kita diajak untuk masuk pada kedalaman hidup, dan bukan sekedar puas dengan permukaan hidup.

         Mungkin kita terkejut ketika Kristus melakukan sesuatu yang mengagumkan di dalam hidup kita, Mungkin kita heran, mungkin kita tidak terkejut. Mungkin kita berpikir bahwa sesuatu yang baik dan berhasil datangnya dari usaha kita. Orang yang sombong berpikir seperti itu. Orang yang sombong adalah orang yang menyadari adanya tangan Allah dan berkata: “Tuhan pergilah daripadaku, sebab aku tahu apa yang harus aku lakukan“. Petrus yang merasa ahli di bidang ke-nelayan-an dan sudah merasa bekerja berat, akhirnya mengatakan sesuatu yang berbeda: “Tuhan, pergilah daripadaku, sebab aku ini seorang berdosa.” Ia sadar akan kedosaanya, tetapi Tuhan tetap percaya padanya. Belajar dari Yesus yang percaya kepada Petrus kita diajak untuk menciptakan dan mengalirkan pengalaman sentuhan kasih Kristus itu terhadap sesama yang merasa berdosa. Tuhan melakukan mujijat melalui ketaatan orang yang berdosa. Kita perlu mendengarkan Dia: “jangan takut. Kamu akan menjadi …”

Doa Penutup

Ya Allah dunia ini bergerak cepat dan sering membuat orang tidak tahu kemana mereka akan pergi dan tidak menikmati persahabatan dengan Engkau sebagaimana yang aku alami. Aku tidak tahu apakah Engkau ingin menarik banyak jiwa melalui aku. Tetapi seandainya Engkau memanggilku, aku selalu berpikir bahwa mereka terlalu banyak. Hatiku siap, ya Allah. Isilah aku dengan semangat merasul. Dan hari ini aku ingin Engkau memberi kesempatan padaku untuk menjadi motivator yang baik.

(MoDjokS)

 
[/et_pb_text]
[/et_pb_column]
[/et_pb_row]
[/et_pb_section]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Renungan Sabda: Kol 1:24-2:3 dan Luk 6:6-11 | Senin, 09 September 2019 | Hari Minggu Biasa XXII

Sumber: https://unsplash.com/photos/7lryofJ0H9s Perjuangan dan Anggapan Mereka Fr. Bartholomeus Alfa Amorrista  “Itulah yang kuusahakan dan kuperjuangkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya yang bekerja dengan kuat dalam diriku.” Kol...

Renungan Sabda: Luk. 21:12-19 (Rabu, 28 November 2018)

"Menderita Untuk Mulia"Doa Pembuka Allah Bapa sumber kekuatan dalam hidup kami, perkenankanlah kami agar senantiasa menyadari diri kami sebagai orang yang Engkau pilih untuk saling...

Renungan Sabda: Luk 12:54-59 (Jumat Pekan XXIX-B)

"Damai di Hati"  Doa pembuka Allah Mahabaik, kami bersyukur atas kebaikan-Mu yang telah kami rasakan selama ini. Ya Bapa, Engkau telah menciptakan kami serupa dan secitra...

Renungan Sabda: Luk 9 : 19-22 (Jumat Pekan XXV-B)

Mengikuti Yesus melalui Proses   Doa Pembuka Allah Maha Bijaksana, ajarilah kami hari ini untuk membuka hati pada firman-Mu. Bimbinglah kami untuk peka akan tanda-tanda kasih-Mu yang...

Renungan Sabda: Matius 19: 23-30 | Selasa, 20 Agustus 2019 – Pw S. Bernardus , Abas dan Pujangga Gereja

1. Unta dan Lobang JarumInjil hari ini adalah kelanjutan dari Injil yang kemarin menjadi bahan renungan. Pada bagian akhir Injil kemarin disebutkan bahwa:...