Renungan Sabda: Luk 8 : 4-15 (Sabtu Pekan XXIV-B)

Kebebasan Dalam Memilih

 

Doa Pembuka

Allah Bapa yang Mahabaik, Kasih-Mu tanpa batas-batasnya mengalir dalam hati kami dan membawa kesegaran serta kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Kasih itu terus memampukan kami mengikuti-Mu dalam iman, harapan dan kasih. Dalam kemurahan kasih-Mu itu, tuntunlah dan sertailah kami, agar kami tetap tinggal dalam-Mu dan semakin mampu menekui firmanMu. Demi Kristus pengantara kami. Amin.

 

 

Renungan

     Yesus menggunakan perumpamaan seorang penabur (Luk 8:4-15) berdasar pada latar belakang kehidupan di Palestina. Suatu kebiasaan yang terjadi saat musim tanam, para penabur menyebarkan benihnya di ladang yang memang belum dibajak. Benih yang ditaburkan itu jatuh ke berbagai tempat, selain tanah subur ada juga yang jatuh di bebatuan dan semak berduri ataupun di pinggir jalan. Benih itu memiliki kualitas yang sama. Hasil panennya tinggal tergantung dimana benih itu jatuh dan tumbuh.

 

          Perumpamaan ini mengajak kita merenungkan bahwa hasil yang berlimpah bukan pertama atas kualitas benih, melainkan tempat jatuhnya benih itu. Benih yang jatuh di jalan mengartikan karya Allah yang hadir dalam diri seseorang hilang begitu saja, karena si jahat merampas daripadanya. Benih yang jatuh di tanah berbatu megnartikan, karya Allah itu mampu tumbuh, tetapi tidak berakar pada hati orang. Ketika terjadi pencobaan, entah berupa pangkat atau jabatan, uang, popularitas, kita meninggalkan imannya. Benih yang jatuh dalam semak duri berarti karya Allah itu tumbuh dalam diri kita, tapi kekuatiran dan kenikmatan hidup menjepit iman itu tumbuh secara penuh dalam diri kita. Akhirnya benih yang tumbuh di tanah yang subur berarti karya Allah itu menghadirkan iman yang terwujud dalam perkatakan, sikap dan perbuatan. Allah hadir dan tinggal dalam dirinya.

 

           Kita adalah tempat jatuhnya benih itu. Benih itu adalah iman yang Allah taburkan dalam diri kita. Pada dasarnya, kita semua diberi pilihan oleh Tuhan. Kita pun juga diberi kebebasan untuk menentukan perjalanan iman kita. Allah tidak pernah memaksa kita menjadi murid-muridnya. Allah tetap memanggil semua orang sama adanya, tetapi jawaban kita yang berbeda. Tempat jatuhnya benih itu memperlihatkan sikap dan hati kita berhadapan dengan panggilan menjadi murid-murid-Nya yang sejati. Menjadi murid Kristus berarti berani meneladan kasih Kristus yang telah memberikan diri dalam pelayanan, ketulusan dan pengorbanan diri kepada sesama. Karenanya, keputusan memilih menjadi murid Kristus berarti berani menghayati dan mewujudkan iman secara konsisten dalam pelayanan kasih kepada sesama. Pertanyaan yang dapat kita renungkan ialah tempat apa yang telah saya sediakan bagi Tuhan dalam hatiku saat ini?

 

 

Doa Penutup

Allah Bapa yang baik hati, syukur atas anugerah kebebasan yang Engkau tanamkan dalam diri kami. Syukur pula atas segala sabda yang Engkau siramkan atas hati dan budi kami. Kami mohon bantulah kami agar kami mampu menerima sabda-Mu dan menumbuhkan dalam hati kami. Sehingga, benih sabda-Mu itu senantiasa terpancar dalam setiap pikiran, perkataan dan tindakan untuk terus meluhurkan nama-Mu. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.

 

(Fr. Carolus Andi, Tingkat VI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Renungan Sabda: Matius 5: 43-48 (Selasa Biasa Pekan X)

"Kasihilah musuhmu"   Hari ini Tuhan Yesus berkotbah di bukit dan berkata: “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata...

Allah Tidak Pernah Kehabisan Cara Untuk Mengasihi Kita

Allah telah sungguh-sungguh mengasihi kita, bahkan dengan berbagai cara yang telah dilakukanNya untuk kita.Lantas, apakah kita sudah sungguh-sungguh mengasihi-Nya? Bagaimana cara kita untuk mengasihi...

Renungan Sabda: Lukas 7,31-35 | Rabu, 18 September 2019 | Hari Biasa

 Sumber Gambar: https://alert-it.co.uk/wp-content/uploads/2014/12/Lend-a-HAND-450x300.jpg Menerima Apa Adanya oleh: Fr. Gandhi Raka“Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.”Suatu hari, saya melewatkan waktu di sebuah kantin...

Renungan Sabda: Yoh 16:12-15 | Rabu, 20 Mei 2020 | Hari Biasa Pekan VI Paskah

  Bentuk Kekecewaan Fr. Fransiscus Xaverius Andika Marihot Siboro      Di masa kritis sekarang ini, banyak di antara kita yang merasa jenuh, bosan, kesal, dan...

Renungan Sabda: Markus 8:22-26 (Rabu Biasa Pekan VI)

Ia Mengasihimu dengan Cara-NyaDoa Pembuka: Allah Bapa Maha Pengasih, Engkau telah berkenan mendampingi dan mengaruniakan kasih Mu pada kami. Kami mohon berilah kami rahmat-Mu, agar...