Renungan Sabda: Luk 12:8-12 (Sabtu Pekan XXVIII-B)

“Benar, Siapa Takut?”

Doa Pembuka

Tuhan yang penuh belaskasih, kami bersyukur atas Kasih-Mu yang begitu melimpah bagi kami. Semoga kasih-Mu pulalah yang mendorong kami untuk senantiasa belajar dari Engkau Sang Kebenaran Sejati. Bantulah kami untuk mengalahkan kebebalan hati kami, agar kami mampu mewartakan kebenaran-Mu kepada siapapun yang kami jumpai hari ini. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

 

 

Renungan

         Ada sekelompok anak sedang bermain bersama. Mereka adalah Tino, Nilo, dan Bian. Sembari bermain, mereka saling menceritakan pengalaman liburan mereka. Tino bercerita kalau liburannya sangat menyenangkan. Ia bercerita dengan begitu menggebu-gebu. Senada dengan Tino, Nilo pun bercerita dengan hebohnya. Ia bercerita kalau ia bersama keluarganya pergi ke tempat yang sangat menyenangkan. Kini giliran Bian. Mukanya mendadak pucat pasi. Tapi kemudian setiap kata keluar dari mulutnya. Ia mulai bercerita. Ia tidak mau kalah dengan kedua temannya. Ia bercerita panjang lebar dan memasang ekspresi ke’bangga’an. Tetapi ia kemudian terdiam ketika Nilo bertanya dengan sedikit memohon, “Aku mau lihat fotonya. Boleh kan?” Bian tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya terdiam karena cerita yang ia ceritakan sejujurnya hanya bualan semata. Ia tak pergi ke mana pun. Ia harus di rumah karena ayahnya sakit. Tapi ia juga ingin supaya temannya tidak mengetahuinya. Ia takut diejek oleh temannya. Maka dari itu, ia berbohong.

 

 

        Tidak terasa pengalaman seperti Bian itu sering kita alami. Kita tersudutkan oleh sesuatu yang membuat kita enggan atau ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Tanda-tandanya dimulai dengan gelisah atau ragu. Kemudian ada tegangan dalam batin, “mau jujur atau tidak, ya?” Kalau kita jujur, kita akan merasa lega. Tetapi sebaliknya, ketika kita mulai mengatakan yang jauh dari hal yang sejujurnya, ada perasaan gelisah atau bahkan ketakutan menghantui kita.

 

 

        Teman, hari ini Tuhan mengajak kita untuk mau mengatakan kebenaran. Kita tidak perlu takut untuk menerima konsekuensi kalau mengatakan kebenaran. Tidak perlu takut dijauhi, diremehkan, bahkan dibenci. Tuhan sendiri mengatakan, “Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (Luk 12:12). Kalau kita percaya bahwa Roh Kudus senantiasa menuntun kita, maka beranilah. Jika kita merasa ragu, yakinlah.

 

 

Doa Penutup 

Tuhan yang penuh belaskasih, semoga sabda-Mu hari ini semakin meneguhkan kami untuk menjadi pewarta kasih-Mu. Mampukanlah kami untuk senantiasa memperjuangkan kebenaran dalam hidup kami. Semoga rahmat-Mu mendorong kami untuk senantiasa mendengarkan tuntunan Roh Kudus dalam diri kami. Ampunilah kami bila kami kurang mau mewartakan kebenaran-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

 

 

 

 

Fr. Yonas Bastian/Tk. III

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Renungan Sabda: Luk 5: 1-11 (Kamis Pekan XXII-B)

Doa Pembuka Ya Allah, saat aku mulai berdoa, aku merasa Engkau sedang melangkah dalam perahu kehidupanku. Aku berangkat menolakkan perakuku sedikit lebih jauh dari pantai,...

Renungan Sabda: Yoh. 15: 18-21 | Sabtu, 16 Mei 2020 | Hari Biasa Pekan Paskah V

“TAK KENAL, MAKA TAK SAYANG” Fr. Yohannes Bramanda R. K.         Pepatah “tak kenal, maka tak sayang” rasa-rasanya begitu familiar diucapkan di hampir setiap...

Renungan Sabda: Yoh 16:12-15 | Rabu, 20 Mei 2020 | Hari Biasa Pekan VI Paskah

  Bentuk Kekecewaan Fr. Fransiscus Xaverius Andika Marihot Siboro      Di masa kritis sekarang ini, banyak di antara kita yang merasa jenuh, bosan, kesal, dan...

Renungan Sabda: Lukas 15:1-10 | Kamis, 07 November 2019 | Hari Biasa Pekan XXXI

  Ikutilah Yesus Fr. Hilarius Panji Setiawan"Aku berkata kepadamu, demikian juga akan ada sukacita pada malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat. (Luk. 15:10)"   ...

Ditinggalkan

D I T I N G G A L K A N ----------    rasa-rasanya semua ini seperti pertandingan yang mana jalur telah ditentukan dan orang-orang berlarian saat bel...