Renungan Sabda: Luk 12:54-59 (Jumat Pekan XXIX-B)

“Damai di Hati” 

Doa pembuka

Allah Mahabaik, kami bersyukur atas kebaikan-Mu yang telah kami rasakan selama ini. Ya Bapa, Engkau telah menciptakan kami serupa dan secitra dengan Engkau berkat kasih setia-Mu. Namun kami seringkali tidak menampakkan kasih-Mu kepada sesama kami karena betapa mudahnya kami tidak mau memaafkan kesalahan sesama kami. Kami mohon ya Bapa ajarilah kami untuk mau memaafkan kesalahan sesama kami dengan tulus hati. Dengan pengantaraan Yesus Kristus Juruselamat kami, yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa. Amin.

 

 

Renungan

 

“…berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan…” (Luk 12:58)

 

Pernahkah Anda merasa bersalah pada kawan atau saudara karena suatu permasalahan tertentu, kemudian dalam hati pasti rasa penyesalan datang dan bertanya-tanya, “mengapa saya sampai hati menyakitinya?” atau “apa yang telah saya lakukan sampai dia tersakiti?”, pernahkah? Suatu ketika saya pernah berbuat kesalahan dengan kawan saya sehingga ia merasa sakit hati karena ucapan saya. Lalu saat berdoa, saya merasa ada “sesuatu” yang mengganjal dalam hati. Dalam permenungan doa, saya teringat akan perbuatan kepada kawan saya sebelum berdoa tadi. Tanpa pikir panjang, saya langsung menemui ia dan dengan tulus hati memberanikan diri untuk meminta maaf kepadanya atas ucapan yang menyakiti hatinya tadi. Syukurlah ia memaafkan kesalahan saya.

 

 

Sahabat terkasih, dari pengalaman memaafkan tadi kita pasti pernah memiliki perasaan bersalah. Merasa bersalah, karena sesuatu hal, merupakan hal baik yang perlu disadari. Hal ini baik, karena sebagai manusia biasa, kesalahan pasti kerapkali terjadi entah dalam hal sepele atau hal lain. Berani mengakui kesalahan adalah cara untuk mencapai kerendahan hati. Dengan demikian berarti kita berani membuka hati untuk berdamai dengan sesama yang kita sakiti, entah dengan perasaan, perkataan dan perbuatan. Apabila kita memendam perasaan bersalah itu, yang tersakiti bukan hanya orang yang kita sakiti, melainkan juga diri kita sendiri karena perasaan bersalah itu. Untuk apa memendam perasaan bersalah ke dalam hati yang telah melakukan kesalahan. Yesus telah mengajak kita untuk mau memaafkan kesalahan orang lain, demikian juga hari ini Ia mengajak untuk lebih dahulu memaafkan lawan kita. Isilah hati ini dengan kedamaian melalui langkah kecil seperti berani memaafkan dengan tulus hati.

 

 

Doa Penutup

Allah Sumber Kedamaian, Engkau pernah bersabda damai-Ku tinggalakan bagimu, damai-Ku Kuberikan kepadamu. Kami mohon ya Bapa, penuhilah hati kami dengan damai-Mu itu agar kami senantiasa menampakkan damai dalam setiap langkah laku kami. Dengan pengantaraan Yesus Juruselamat kami. Amin.

 

 

 

(Fr. Aditya Relliantoko, Tingkat II)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

STRONGER

The flag that burn our brain. A freedom that bring a promise, Red and white that symbolized a true effort, Red and white that bring a hero...

Renungan Sabda: Markus 10:13-16 (Sabtu Biasa Pekan VII)

Anak Kecil, Empunya Kerajaan AllahDoa Pembuka:     Allah Bapa Mahakasih, Engkau menciptakan segala sesuatu baik adanya. Ajarilah kami untuk menghargai dan meluhurkan segala ciptaan-Mu....

Y.O.U.N.G

I wash my blood, When I see a map in the sky. Ready to show the strength, I feel a goal in my breath. .   Believing a footprint, I tell...

Renungan Sabda: Kolose 3:12-21 | Minggu, 29 Desember 2019

  Menjaga Keluarga oleh: Fr. Oot ChristianKeluarga adalah Gereja mini. Mulai dari keluarga, kasih Allah diajarkan dan dibagikan. Keluarga seharusnya menjadi tempat yang nyaman untuk pulang. Tetapi...

Renungan Sabda: Luk 19:45-48 (Jumat, 23 November 2018, Pekan Biasa XXXIII)

“Kembali Ke Rumah”    Doa Pembuka      Allah Bapa yang Mahakudus, berkatilah apa yang akan aku kerjakan sepanjang hari ini. jauhkanlah dari padaku sikap terpaksa dalam...