Renungan Sabda: Luk 13:1-9 (Sabtu Pekan XXIX-B)

“Kesempatan Kita”

Doa Pembuka

Allah yang Maharahim, kami bersyukur atas kerahimanMu yang melingkupi kami setiap hari dan memberi kami anugarah hidup hingga kini. Kami ingin bersyukur atas semua itu melalui karya hidup hari ini yang kami jalani dengan totalitas. Bukalah pikiran dan hati kami untuk mampu merenungkan sabdaMu sehingga menjadi daya bagi hidup kami untuk mengabdiMu, dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

Renungan

Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan kedatangan orang-orang kepada Yesus perihal kematian orang-orang Galilea yang dibunuh Pilatus. Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, kita dapat menerka bahwa mereka menyangka kematian orang-orang itu merupakan akibat dari dosa atau kesalahannya sendiri. Namun Yesus menyatakan bahwa kematian mereka di tangan Pilatus itu bukan akibat dari dosa mereka. Dari kata-kata Yesus ini, kita dapat mengartikan bahwa di antara mereka yang mati itu bisa jadi adalah orang-orang baik, atau bahkan orang kudus. Hal ini sering kita jumpai dalam hidup sehari-hari ketika terjadi musibah pada orang-orang yang kita pandang baik sehingga kita bertanya, mengapa orang sebaik itu tertimpa musibah seperti itu? Dengan melihat perikop Kitab Suci lain, pada Yohanes 9:2-3, Yesus membari jawaban bahwa kadang “pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia”, yaitu melalui keadaan buruk (menurut pandangan kita) yang terjadi pada diri seseorang. Ketika pekerjaan Allah dinyatakan, orang tersebut atau orang-orang di sekitarnya dapat mengalami kehadiran Allah itu sendiri. Dalam hal ini, sebagai orang beriman, kita diajak untuk mencari, Tuhan menghendaki apa (Tuhan ingin berkarya apa) lewat penderitaan tersebut? Hal ini menuntut sikap sabar, setia dan percaya.

 

Melalui peristiwa kematian orang-orang yang dipersoalkan oleh orang-orang yang datang itu, Yesus justru mengungkapkan hal lain. Kita seperti orang-orang yang datang itu, yang barangkali merasa diri tidak lebih berdosa dari orang yang tertimpa “musibah” pembunuhan Pilatus. Namanya juga manusia, sifatnya adalah cenderung untuk berdosa (concupiscentia). Kita ini selalu saja berdosa, bahkan pada waktu-waktu yang akan datang dan Tuhan tahu persis tentang hal ini. Di sisi lain, kenyataannya kita masih diberi hidup. Lalu kalau demikian, apakah Dia sengaja membiarkan kita hidup untuk  jatuh dalam dosa itu? Kalau iya, betapa jahatnya Tuhan? Bukan. Justru sebaliknya, kenyataan bahwa kita masih hidup saat ini merupakan satu kesempatan untuk bertobat. Yesus yang adalah pengurus kebun itu, Dialah yang mempertahankan kita. Dia menaruh harapan besar pada kita untuk berbuah. Dengan Roh-Nya, ia merawat kita dengan berbagai sarana hidup yang kita miliki (pangan, sandang, kerabat dan teman). Dia mencangkul dan memupuk kita dengan semangat hidup, misalnya yang datang dari kasih sesama di sekitar kita. Dia berusaha agar kita tumbuh subur untuk berbuah. Dapatkah Saudara-saudari menyadarinya? Saudara-saudara, Tuhan memberi kita kesempatan untuk bertobat. Betapa besar anugerah ini. Malaikatpun iri dengan kita. Sekali berdosa, malaikat ditolak dan berubah menjadi setan. Namun bagi manusia, seberapa kali pun berdosa, seberapa besarpun dosanya, Allah masih memberi kesempatan pengampunan. Mari, kita diajak untuk mengambil tawaran Allah ini sehingga kita akhirnya dapat berbuah bagi hidup dan lingkungan kita. Pertobatan selalu menghasilkan buah.

 

“Bersalah itu manusiawi, mengampuni itu Ilahi.”

Doa Penutup

Allah yang Maharahim, kami sungguh bersyukur atas kerahimanMu bagi kami yang melebihi samudera dan tak terselami. Bantulah kami untuk berani menjawab tawaranMu bertobat, yaitu mengubah arah hidup kami yang meninggalkanmu lalu mengarahkan diri kami seluruhnya padaMu. Semoga kami dapat berbuah lebat dan semakin menjadi sempurna sebagaimana Engkau sempurna. Ini kami mohon dalam nama Yesus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.
(Fr. Dominikus Setio Haryadi, Tingkat II)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Renungan Sabda: Lukas 6, 39-45 (Minggu Biasa Pekan VIII)

Mulat Laku Jantraning Bantala Doa Pembuka: Bapa maha kasih, aku bersyukur kepada-Mu atas hari hidupku dan orang-orang baik yang telah Kau utus kepadaku. Semoga...

Renungan Sabda: Yoh 20:19-31 | Minggu, 19 April 2020 | Hari Minggu Paskah II

YESUS HADIR, MARI BERAKSI   Oleh: Fr. Bonifatius Putra A.      Penyebaran Covid-19 atau Virus Corona telah melumpuhkan berbagai aktivitas manusia seperti di bidang pendidikan,...

Renungan Sabda: Luk 6:39-42 | Jumat, 13 September 2019 | P.W. St. Yohanes Krisostomus

 Jangan Berpaling dari Dirimu Sendiri Fr. Agustinus Brian Kurniawan Suatu kali, pada saat saya sedang mengikuti perkuliahan di kampus, saya melihat dosen yang sedang sibuk mempersiapkan...

Renungan Sabda: Yoh 3:13-17 | Sabtu, 14 September 2019 | Pesta Salib Suci

  Di Salib Ia Ditinggikan Dominikus Bagaskara     Beberapa waktu yang lalu, ‘jagat maya’ sempat dihebohkan oleh video ceramah mengenai salib. Isi video itu bagi saya...

TANDA

T A N D A ---------- bukan barang yang istimewa bahkan pula kerap sangat sederhana memang selalu perlu suatu usaha untuk dapat mengungkap makna di dalamnya  tanda itu bukan semata-mata...