Renungan Sabda: Lukas 6: 17.20-26 (Minggu Biasa Pekan VI)

[et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”3.19.14″][et_pb_row _builder_version=”3.19.14″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.19.14″][et_pb_accordion _builder_version=”3.19.14″][et_pb_accordion_item _builder_version=”3.19.14″ open=”on”]

“Semua sama di mata Tuhan”

Doa Pembuka

          Allah yang Mahamurah, Putra-Mu bersabda ““Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah”, kiranya ya Tuhan hari ini kami mampu meneladan Putra-Mu untuk menjadi miskin kesombongan melainkan kaya dalam melayani sesama, Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah, Kini dan sepanjang masa.

 

 

Renungan

     Sabda Yesus hari ini mengajak kita untuk merenungkan sikap kita dalam menyikapi batin sebagai manusia rapuh di dunia ini. Dikatakan dalam injil hari ini “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk 6:20), sedangkan untuk si kaya dikatakan ”tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu” (Luk 6:24). Secara eksplisit tentu ini adalah perbedaan status hidup, namun apakah dengan itu berarti orang kaya sukar masuk Kerajaan Allah?.

   Ini kiranya menjadi sebuah permenungan bagi kita dimana semata-mata ada perbedaan yang tampak disana, padahal warta keselamatan itu akan didapatkan semua orang yang tinggal dalam iman akan Yesus Kristus, baik orang miskin maupun orang kaya. Dalam sabda-Nya ini Yesus hanya ingin membawa kita kepada kesadaran batiniah, dimana orang miskin dan orang kaya hendaknya senantiasa saling mendukung untuk mewujudkan hidup yang mampu mengarah kepada iman akan Ia yang mahamurah.

    Kita tentu tidak asing dengan sebuah kisah hidup Anne Avantie, beliau adalah  perancang busana Indonesia serta aktivis sosial yang hidupnya dan waktunya secara kongkrit diberikan untuk orang-orang miskin dan orang yang berkebutuhan khusus. Sebuah pemadangan atau fenomena yang indah dimana orang yang boleh dikatakan mampu atau mapan mau untuk memberikan diri untuk orang-orang yang kurang mampu. Sudahkan kita memberikan diri kita?, memberikan diri semata-mata tidak melulu dengan materi yang kita miliki, kita cukup hadir dan mendengarkan mimpi serta harapan orang-orang yang ada disekeliling kita merupakan wujud nyata kita untuk bersama-sama membangun persaudaraan tanpa ada sekat secara status karena pada dasarnya manusia diciptakan dengan tujuan yang sama yaitu bersatu dalam Kerajaan Allah.

 

 

 

 

Doa Penutup

   Allah sumber kebaikan, hari ini kami telah mendengarkan Sabda Putra-Mu, kiranya rahmat Roh Kudus-Mu memampukan kamu pula untuk melaksanakannya dalam hidup kami hari ini. Bantulah kami pada hari ini menjadi rekan yang memperkaya dalam mengusahakan kebaikan dan iman akan Putra-Mu, Demi Kristus Tuhan, dan pengatara kami.

 

(Fr. Thomas Yuniarko Wibowo, Tingkat 1, KAS)

 

[/et_pb_accordion_item][et_pb_accordion_item title=”Your Title Goes Here” _builder_version=”3.19.14″ open=”off”]

Your content goes here. Edit or remove this text inline or in the module Content settings. You can also style every aspect of this content in the module Design settings and even apply custom CSS to this text in the module Advanced settings.

[/et_pb_accordion_item][/et_pb_accordion][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Ditinggalkan

D I T I N G G A L K A N ----------    rasa-rasanya semua ini seperti pertandingan yang mana jalur telah ditentukan dan orang-orang berlarian saat bel...

1000 Hari Alm. Mgr. Johannes Maria Pujasumarta, Pr

      Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan Yogyakarta merayakan peringatan Seribu Hari (Nyewu) meninggalnya Mgr. Johannes Maria Pujasumarta pada hari Rabu, 22 Agustus...

Renungan Sabda: Kol 3:1-11; Luk 6:20-26 | Rabu, 11 September 2019 | Hari Biasa Pekan XXIII

  Kebahagiaan Kita adalah Iman akan Allah yang Penuh Kasih oleh: Fr. Benedictus Adiatma Murti WibowoTujuan hidup manusia yang paling utama ialah mencapai atau merasakan kebahagiaan....

Renungan Sabda:Luk 21:5-11 (Selasa, 27 November 2018)

"Peka dan Waspada akan Tanda-tanda Zaman, Siapa Takut?"Doa Pembuka Ya Allah Tuhan kami, bantulah kami untuk mempunyai sikap iman yang waspada terhadap segala sesuatu yang...

Sarang CCA Se-Kabupaten Sleman: “Mewartakan Kabar Gembira dalam Kemajemukan”

   Sabtu, 29 September 2018, kompleks Seminari Tinggi St.Paulus Kentungan dan Fakultas Teologi Wedabhakti menjadi sarang bagi 350-an siswa SD dan puluhan guru. Mereka...