Renungan Sabda: Matius 6:1-6,16-18 (Rabu Abu)

[et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”3.19.14″][et_pb_row _builder_version=”3.19.14″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.19.14″][et_pb_accordion _builder_version=”3.19.14″][et_pb_accordion_item _builder_version=”3.19.14″ open=”on”]

Tahu dan Mesin Ketik

 

    Pernahkah anda makan tahu? Saya yakin kita semua pernah makan tahu dengan berbagai macam varian, entah bacem, semur, goreng dsb. Bagi saya, dari pebagai macam varian tersebut tahu pong adalah varian masakan tahu yang paling menarik. Sebagaimana namanya, tahu pong berasal dari kata pong atau kopong (kosong). Tahu pong nampak lezat, berisi, dan menarik akan tetapi disaat kita memakannya yang terjadi adalah tahu pong terasa tipis dan ringan. Hal tersebut dikarenakan di dalamnya tidak ada isi, hanya ada rongga kosong (kopong).

    Selain itu, tahukah anda dengan mesin ketik? Saya juga yakin bahwa semua pernah atau setidaknya tahu mengenai mesin ketik, mesin yang digunakan sebelum adanya komputer, laptop, atau notebook. Apa yang menarik dari mesin ketik adalah, ketika pengetik melakukan kesalahan ketik, tulisan tersebut tidak bisa langsung dihapus sebagaimana laptop zaman sekarang. Terdapat cara untuk memperbaiki kesalahn tersebut, yakni dengan mengganti dengan kertas baru yang kemudian pengetik harus mengetik ulang.

    Apa maksud dari kedua cerita tersebut? Sering kali, di dalam proses hidup beriman, hidup kita kurang lebih sama seperti tahu pong dan mesin ketik. Tidak jarang, kita lebih bangga dengan hal-hal praksis, teknis, dan lahiriah terkait urusan keagamaan sehingga kita lupa esensi atau inti dari beriman itu sendiri. Seperti misalnya aktif kegiatan ini-itu di paroki, selalu meggunakan mantila saat misa, menggunakan rosario sebagai kalung, dsb. Tentu hal tersebut tidaklah salah sejauh intensinya untuk membantu menghayati iman kita. Yesus dalam bacaan injil hari ini mengingatkan kita agar dalam beriman, kita tidak jatuh pada hal-hal rigiditas, aturan-aturan belaka ini benar atau salah, sekaligus hal-hal yang nampak diluarannya saja. Yesus mengajari kita untuk membangun sikap iman yang berbobot, sikap iman yang ada di dalam hati kita secara mendasar, yakni kedekatan relasi kita dengan Allah Bapa di sorga. Kualitas serta intimitas iman kita lebih berharga daripada hanya apa yang nampak di permukaan, karena apabila kita memiliki iman yang mendalam secara tanpa sadar penampilan kitapun juga akan mencerminkan kemendalaman iman kita.

    Lantas bagaimana agar kita dapat mencapai kemendalaman iman tersebut? Di dalam injil, Yesus mengatakan agar kita dapat mencapai kemendalaman iman caranya adalah dengan melalui bersedekah kepada orang miskin, berpuasa, dan yang terakhir dengan berdoa. Tentu hal-hal tersebut bukan hanya demi relasi antar sesama manusia tetapi juga relasi dengan Allah sendiri, terlebih pada hari ini, kita memasuki masa prapaskah dengan merayakan Rabu Abu. Sebagaimana daun palma yang dibakar melambangkan kerendahan hati dan abu sebagai lambang sikap berpasrah diri, bersedekah, berpuasa, serta berdoa bukan hanya bentuk nyata dari sikap iman yang pasrah dan rendah hati. Lebih dari itu, bersedekah, berpuasa, dan berdoa adalah langkah konkret kita untuk membangun sikap iman yang baru daripada sikap iman yang sebelumnya. Sama seperti halnya dengan mesin ketik yang berganti kertas apabila ada kesalahan, Rabu Abu merupakan ‘kertas’ baru, lembaran baru, atau kesempatan baru yang diberikan oleh Allah agar kita siap, layak sekaligus pantas memasuki masa prapaskah. Semoga dengan menerima abu yang dibubuhkan di dahi pada hari Rabu Abu ini, kita semakin menyiapkan hidup dan hati kita untuk menyambut masa prapaskah dengan penuh pasrah serta pertobatan.

 

 

(Fr. Bona, Tingkat 3, KAS)

[/et_pb_accordion_item][et_pb_accordion_item title=”Your Title Goes Here” _builder_version=”3.19.14″ open=”off”]

Your content goes here. Edit or remove this text inline or in the module Content settings. You can also style every aspect of this content in the module Design settings and even apply custom CSS to this text in the module Advanced settings.

[/et_pb_accordion_item][/et_pb_accordion][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Renungan Sabda: Kol 1:24-2:3 dan Luk 6:6-11 | Senin, 09 September 2019 | Hari Minggu Biasa XXII

Sumber: https://unsplash.com/photos/7lryofJ0H9s Perjuangan dan Anggapan Mereka Fr. Bartholomeus Alfa Amorrista  “Itulah yang kuusahakan dan kuperjuangkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya yang bekerja dengan kuat dalam diriku.” Kol...

Renungan Sabda: Flp. 2:1-4 (Senin 5 November 2018, Pekan XXXI)

"KASIH BUTUH DIPERJUANGKAN" Doa Pembuka Allah Bapa kami, bukalah seluruh diri kami supaya kami dapat merasakan kasih-Mu. Semoga kasih-Mu sungguh meresap di dalam diri kami, sehingga...

Renungan Sabda: Luk 6:20-26 (Rabu XXIII-B)

"HARAPAN : Identitas Kristiani" Doa Pembuka Allah Bapa Maha Pengasih, semoga hati kami tetap terbuka terhadap sabda-Mu dan perkenankanlah kami memahami kehendak-Mu mengenai dunia dan manusia...

Renungan Sabda: Luk 10 : 25-37 (Senin Pekan XXVII-B)

"Do More" Doa Pembuka Allah Bapa Maha Pengasih, kebaikan dan cinta kasih-Mu selalu menaungi dan menghidupi kami. Kami mohon ajarilah kami selalu untuk berbelas kasih dan...

Renungan Sabda: Kol 3:1-11; Luk 6:20-26 | Rabu, 11 September 2019 | Hari Biasa Pekan XXIII

  Kebahagiaan Kita adalah Iman akan Allah yang Penuh Kasih oleh: Fr. Benedictus Adiatma Murti WibowoTujuan hidup manusia yang paling utama ialah mencapai atau merasakan kebahagiaan....