Renungan Sabda: Lukas 9:22-25 (Kamis sesudah Rabu Abu)

[et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”3.19.14″][et_pb_row _builder_version=”3.19.14″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.19.14″][et_pb_accordion _builder_version=”3.19.14″][et_pb_accordion_item open=”on” _builder_version=”3.19.14″ title_text_shadow_horizontal_length=”0em” title_text_shadow_vertical_length=”0em” title_text_shadow_blur_strength=”0em” body_text_shadow_horizontal_length=”0em” body_text_shadow_vertical_length=”0em” body_text_shadow_blur_strength=”0em”]

Penyangkalan diri

Doa pembuka

Allah yang Maha cinta, kami bersyukur atas segala cinta kasih yang boleh kami terima dari pada-Mu melalui perantaraan Putra-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus. Kami mohon rahmat-Mu agar kami dimampukan untuk menelada Putra-Mu. Sehingga dalam setiap kesulitan dan penderitaan yang kami alami karena mengikitu Putera-Mu semakin menyadarkan kami agar selalu berpegang teguh pada kehendak-Mu. Demi Yesus Kristus Tuhan dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang masa. Amin.

 

Renungan

Suatu pagi, saya sedang mengadakan perjalanan bersama seorang teman. Saya merasa haus. Saya mengambil botol yang saya bawa di dalam tas. Ternyata, air dalam botol itu habis. Saya melihat seorang ibu yang berada di depan rumahnya. Saya mendatangi ibu itu dan memberanikan diri meminta air minum. Tetapi dengan alasan belum mengisi galon, ibu itu menolak memberikan air. Ibu itu masuk rumah, menutup pintu dan menguncinya. Karena masih di depan pintu, saya mendengar suara pintu itu ditutup dengan keras. Saya merasa itu adalah isyarat penolakan secara halus. Penolakan itu membuat jengkel dan kesal. Setelah itu, saya kembali melanjutkan perjalan kembali. Setelah jauh dari rumah ibu tadi, ada seorang bapak yang memanggil kami dan memberikan dengan Cuma-Cuma air yang dia miliki. Saya masih ingat kata yang diucapkan bapak itu “minum dulu yang banyak, baru nanti botolnya diisi sampai penuh”. Saya senang sekali diberi air minum. Setelah mengucapkan terima kasih, kami pergi melanjutkan perjalanan.

 

Dari cerita itu terlihat bahwa penolakan membuat sakit hati. Sakit hati memunculkan rasa marah yang akhirnya membuat kita rasanya ingin membalas orang yang telah menyakiti. Ini menjadi hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Yesus dalam bacaan injil mengajak kita melakukan sesuatu yang tidak biasa. Tidak biasa dalam kehidupan kita. Bagaimana tidak, Yesus mengajak orang untuk menyangkal diri, memikul salib setiap hari. Menyangkal diri dapat diartikan dengan tidak menjadikan diri sendiri yang utama. Sehingga dengan menyangkal diri, kita dapat memahami orang lain. Pemahaman ini yang dapat menjadikan kita berpikir positif untuk menanggapi setiap peristiwa yang kita alami. Pemikiran positif akan membawa kita untuk tidak gegabah. Orang yang tidak gegabah menjadikannya orang yang sabar dan tahu kapan harus bertindak. Dengan begitu, kita tidak akan mudah untuk menghakimi orang lain bahkan akan lebih mudah untuk menerima atau memikul salib kita.

 

Jika kita mengaku diri sebagai murid Yesus hendaknya kita juga meneladan apa yang dilakukan oleh Yesus. Di masa pra-paskah ini, kita dapat ikut ambil bagian dalam pantang dan puasa. Pantang dan puasa dapat menjadi sarana untuk menyangkal diri. Marilah kita mohon kekuatan dari-Nya agar kita mampu untuk terus menyangkal diri dan memikul salib kita.

Doa Penutup

Allah Bapa yang Maharamim, kami bersyukur teladan Putra-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus. Kami mohon rahmat-Mu agar kami mampu untuk menghidupi teladan Putera-Mu dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kami dapat menjadi murid-murid yang siap menjadi teladan bagi orang lain dalam setiap kata dan tindakan kami. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

(Fr. Saptono, Tingkat 3, K.Pwkt)

 

[/et_pb_accordion_item][et_pb_accordion_item title=”Your Title Goes Here” open=”off” _builder_version=”3.19.14″ title_text_shadow_horizontal_length=”0em” title_text_shadow_vertical_length=”0em” title_text_shadow_blur_strength=”0em” body_text_shadow_horizontal_length=”0em” body_text_shadow_vertical_length=”0em” body_text_shadow_blur_strength=”0em”]

Your content goes here. Edit or remove this text inline or in the module Content settings. You can also style every aspect of this content in the module Design settings and even apply custom CSS to this text in the module Advanced settings.

[/et_pb_accordion_item][/et_pb_accordion][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Renungan Sabda: Luk 11: 15-26 | Jumat, 11 Oktober 2019 | Hari Minggu Biasa XXVII (H)

  Mau Bergabung Bersama Yesus? Fr. Felix Kris Alfian“….Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepamu.”     Hari ini kita mendengarkan...

Renungan Sabda: Matius 4:18-22 | Sabtu, 30 November 2019 | Pesta S. Andreas, Rasul

Sumber Gambar: http://www.terang-sabda.com/2014/07/mengenal-kitab-suci-dan-penafsirannya.html Mendengar dan Bertindak Fr. Saptono Ibu, bapak dan saudara-saudari yang terkasih, berkah Dalem. Hari ini kita merayakan pesta Santo Andreas Rasul. Ayahnya, bernama Yohanes,...

Renungan Sabda: Markus 7:31-37 (Jumat Biasa Pekan V)

Relasi dengan Allah yang MengubahDoa Pembuka     Allah Bapa yang Maha Kasih, kami bersyukur atas cinta kasih yang Kau berikan kepada kami. Bantulah kami untuk...

Renungan Sabda: Lukas 4 : 31-37 | Rabu, 4 September 2019 – Hari Biasa

Sumber: intisari.grid.id KEINGINAN oleh Fr. Chosmas Christian Pernahkah dalam kehidupan yang kita jalani ini, kita menanyakan kepada Tuhan “kenapa sesuatu yang kita inginkan tidak segera...