Renungan Sabda: Matius 5: 38-42 (Senin Biasa Pekan X)

[et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”3.21″][et_pb_row _builder_version=”3.21″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.21″][et_pb_accordion _builder_version=”3.21″][et_pb_accordion_item open=”on” _builder_version=”3.21″ title_text_shadow_horizontal_length=”0em” title_text_shadow_vertical_length=”0em” title_text_shadow_blur_strength=”0em” body_text_shadow_horizontal_length=”0em” body_text_shadow_vertical_length=”0em” body_text_shadow_blur_strength=”0em” inline_fonts=”Georgia”]

 “Pilihan sikap hidup: Reformasi atau rasionalisasi”

   Hari ini Yesus bersabda: “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” Yesus menyadari bahwa dunia penuh dengan kekerasan. Melalui pengajaran-Nya Yesus ingin menghancurkan prinsip “kekerasan dibalas dengan kekerasan”, “kejahatan dibalas dengan kejahatan”. Prinsip itu perlu dihancurkan karena memutarbalikkan dan merusak hubungan antara manusia dengan Allah, dan hubungan manusia dengan sesamanya. Ia menginginkan para pengikut-Nya untuk tidak membiarkan diri dipimpin oleh kekerasan dan kejahatan agar kemungkinan pemulihan hubungan satu sama lain dapat terwujud.

   Ia menawarkan empat (4) contoh untuk mengatasi kekerasan: (a) jika ada orang yang menampar pipi kanan, tawarkan pipi kirimu; (b) jika ada orang yang mengadukan untuk mendapatkan baju, biarkan dia memiliki jubahmu juga.(c) Jika ada yang memaksa berjalan satu mil, pergilah dua mil dengannya.(d) Jika ada yang meminta dan mau meminjam, berikan dan jangan menolak.”Aduh! Ini adalah pengajaran yang sulit untuk diterima. Seringkali, ketika diletakkan dalam situasi di mana seseorang menyakiti atau merampas hidup kita, kita cenderung untuk segera merasionalisasi perikop Injil ini dan menganggapnya tidak berlaku bagi kita. Ya, itu adalah pengajaran yang sulit untuk dipercaya dan sulit untuk dijalani. Itukah tanggapan kita saat kita mendengar sabda ini dan bersamaan dengan itu kita atau orang terdekat kita sedang mengalami “tekanan” entah kekerasan dan pemaksaan atau perampasan dari orang lain? Mengapa kita tidak mudah untuk menerima pengajaran ini?

 

   Tidak menggunakan hak untuk melawan. Perkataan dan ajakan Yesus itu bertentangan dengan sebagian besar pemikiran dan kenyataan yang ada dalam budaya kita selama berabad-abad. Setiap hari kita mendengar berita tentang perang antar geng, orang-orang yang tidak bersalah ditembak dan dibunuh, tindakan kekerasan yang tidak masuk akal, penganiayaan anak-anak dan pasangan. Tindak kekerasan tidak menciptakan perdamaian atau keamanan sama sekali. Sebaliknya, mereka menciptakan banyak ketakutan dan kecemasan di dunia kita, di mana pun kita tinggal. Di tengah situasi ini Yesus terus menggemakan ajarannya ini: “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu”  Pengajaran Yesus adalah kontra budaya pada zaman-Nya dan tetap kontra-budaya hingga saat ini. Ia selalu menggaungkan kenyataan yang memprihatinkan bahwa “kekerasan tidak akan pernah menghentikan kekerasan.” Jika Ia mengatakan hal ini karena Ia tahu bahwa kejahatan, kekerasan dan ketidakadilan hanya akan “lumpuh” jika kita tidak terseret dan tertarik oleh arus lumpur “balas dendam”.

   Kita diajak untuk tidak menghadapi kejahatan dan kekerasan dengan perlawanan yang sama. Mengapa? Kejahatan menghancurkan dirinya sendiri. Sikap “menghadapi tanpa perlawanan” tidak sama artinya dengan mengatakan tidak menawarkan apa-apa; atau membiarkan kejahatan melangkahi hidup kita. Artinya kita diajak untuk tidak melawan kejahatan dengan kejahatan. Sebaliknya, “lawanlah kejahatan dengan kebaikan” (Rm 12:21). Kebaikan dan cinta akan merangsang kehidupan. Kejahatan merangsang kepunahan. Belajar dari Pengajaran Injil hari ini, kita diajak untuk tidak membuat pembenaran: “karena dia yang memulai kejahatan, maka saya akan melawannya”. Kita mempunyai hak untuk melawan, tetapi kita tidak menggunakan hak itu. Akhirnya kita diajak untuk melakukan sesuatu kepada orang lain secara maksimal dan optimal, dan bukan menjadi sosok minimalis. Prinsipnya adalah tidak melawan orang yang jahat dengan sikap yang sama. Kita dipanggil untuk berbuat baik di hadapan kejahatan. Tuhan mengajarkan hal ini kepada kita. Ia akan membantu kita mewujudkan sikap ini kalau kita menyertakan Dia dalam sikap dan keputusan kita. 

“Cintailah semua orang, bahkan musuhmu; cintailah mereka, bukan karena mereka adalah saudaramu, tetapi agar mereka dapat menjadi saudaramu. Dengan demikian Anda akan dibakar dengan cinta persaudaraan, baik bagi dia yang sudah menjadi saudara Anda dan musuh Anda, sehingga ia dapat dengan penuh kasih menjadi saudara Anda. Bahkan dia yang belum percaya kepada Kristus.Cintailah dia dengan cinta persaudaraan. Dia belum menjadi saudaramu, tetapi justru mencintainya agar dia menjadi saudaramu.”           

 -St. Agustinus-

“Cinta Tuhan memanggil kita untuk bergerak melampaui rasa takut. Kita meminta keberanian kepada Tuhan untuk meninggalkan diri kita tanpa pamrih, sehingga kita dapat dibentuk oleh kasih karunia Allah, bahkan ketika kita tidak dapat melihat ke mana jalan itu dapat menuntun kita.”                   

  – St. Ignatius Loyola –

(Romo. M. Djoko Setya Prakosa, Pr)

[/et_pb_accordion_item][et_pb_accordion_item title=”Your Title Goes Here” open=”off” _builder_version=”3.21″ title_text_shadow_horizontal_length=”0em” title_text_shadow_vertical_length=”0em” title_text_shadow_blur_strength=”0em” body_text_shadow_horizontal_length=”0em” body_text_shadow_vertical_length=”0em” body_text_shadow_blur_strength=”0em”]

Your content goes here. Edit or remove this text inline or in the module Content settings. You can also style every aspect of this content in the module Design settings and even apply custom CSS to this text in the module Advanced settings.

[/et_pb_accordion_item][/et_pb_accordion][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Renungan Sabda: Luk 10 : 13-16 (Jumat Pekan XXVI-B)

"Mendengarkan atau Menolak?" Doa Pembuka Allah yang mahakasih, kami bersyukur atas segala anugerah yang Engkau limpahkan kepada kami. Bimbinglah, agar kami senantiasa mendengarkan sapaan-sapaan-Mu lewat...

Renungan Sabda: Matius 20: 1-16a | Rabu, 21 Agustus 2019 – Pw. S. Pius X, Paus

  1. Pergi Mencari Sampai Lima Kali. Yesus mengawali pengajaran-Nya sebagai berikut: "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar...

Renungan Sabda: Mrk 7:31-37 (Minggu Pekan XXIII-B)

Doa Pembuka Ya Allah, di dalam doa-Ku, pagi ini aku datang kembali di hadapan-Mu. Aku memang tidak melihat-Mu, tetapi imanku mengatakan bahwa Engkau ada dan...

Renungan Sabda| Jumat, 2 Mei 2020| PW St. Athanasius

Teguh dalam Iman Fr. Saptono       Saudara-saudari yang terkasih, berkah Dalem. Dalam permenungan kali ini, saya tertarik untuk merenungkan kata “menggoncangkan imanmu” (Yoh 6:...

Renungan Sabda: Luk 10: 13-16 | Jumat, 4 Oktober 2019 | Pw. Santo Fransiskus Asisi (P)

ttps://jpicofmindonesia.com/2019/03/prapaskah-bersama-st-fransiskus-assisi-percayalah-kepada-injil/   Pertobatan Fr. Robertus Aad Rianto“Santo Fransiskus Asisi terkenal dengan ketergerakan hatinya untuk memperhatikan orang-orang miskin dan secara khusus lingkungan hidup. ”      Dengan keras dalam...