Renungan Sabda: Matius 19: 23-30 | Selasa, 20 Agustus 2019 – Pw S. Bernardus , Abas dan Pujangga Gereja

1. Unta dan Lobang Jarum

Injil hari ini adalah kelanjutan dari Injil yang kemarin menjadi bahan renungan. Pada bagian akhir Injil kemarin disebutkan bahwa: “Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.”  Setelah orang muda yang kaya itu pergi. Yesus mengomentari keputusan orang muda itu: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ada yang berpendapat bahwa Yesus berbicara secara metaforis. Ia menjelaskan bahwa ada sebuah gerbang di tembok Yerusalem yang disebut “lobang jarum” yang sangat sempit. Seekor unta dapat memasukinya jika ia melepaskan atau tidak membawa beban dari punggungnya. Bahkan jika beban itu sudah tidak ada,  si unta pun masih harus berjalan membungkuk dan merayap. Pendapat ini mengarah pada penafsiran bahwa orang perlu bersikap rendah hati dan melepaskan diri dari beban kekayaannya jika ia ingin bisa memasuki Kerajaan Sorga. Persoalannya adalah tidak ada bukti bahwa pintu gerbang semacam itu ada pada zaman Yesus. Kemungkinan besar pernyataan Yesus ini adalah bahasa sehari-hari Yahudi yang dimaksudkan untuk mengungkapkan pesan tentang “sesuatu yang tidak mungkin”. Kemungkinan ungkapan Yesus ini merupakan penyesuaian dari ungkapan Negeri Persia, yaitu “Lebih mudah bagi seorang gajah untuk pergi melalui lobang jarum”, yang dikutip dalam Talmud. Hewan terbesar yang dikenal di Palestina, yaitu Unta. Unta dipakai untuk menggantikan gajah.

Apa pun penafsirannya, pesannya sama dan tidak berubah. Ia mengajar murid-murid-Nya bahwa sulit bagi orang kaya untuk sampai pada sebuah keputusan di mana ia bersedia dengan rendah hati menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan percaya kepada Yesus saja untuk keselamatannya. Kesulitan itu tidak bisa diatasi hanya oleh kepandaian dan kekuatan manusia, tetapi oleh anugerah Allah. Bunda Teresa mengajarkan kepada kita: “Jika Anda berhadapan dengan Allah dalam doa dan kesunyian, Allah akan berbicara kepada Anda. Maka Anda akan tahu bahwa Anda bukan siapa-siapa. Hanya ketika Anda menyadari ketiadaan Anda, kekosongan Anda, Allah dapat memenuhi Anda dengan diri-Nya sendiri.” Itulah suka cita kita sebagai pengikut Yesus.

2. Kegemparan Para Murid dan Peneguhan Yesus

Yesus memberi gambaran bahwa orang muda yang kaya itu memang telah mematuhi perintah-perintah, tetapi tidak sampai pada sikap penyerahan diri dan bahwa ia mesti memberi dan berbagi kekayaan yang dimilikinya. Para murid semestinya sudah selangkah lebih dewasa dalam iman ketimbang orang muda yang kaya itu. Sebab ketika Yesus memanggil mereka, mereka melakukan hal yang persis sama, seperti yang Yesus minta kepada orang muda itu: “Mereka meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus.” (Mat 4: 20,22). Tetapi pengajaran Yesus tentang orang muda kaya yang sulit masuk Kerajaan Surga membuat mereka heboh dan gempar: “Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan? Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin. Ini adalah tanda bahwa mereka masih berproses untuk memahami dengan baik alasan mengapa “mereka meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus.” Hal ini nampak jelas melalui reaksi Petrus: “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau, jadi apakah yang akan kami peroleh?” Artinya, para murid Yesus, yang sudah meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus, masih belum sepenuhnya memahami alasan mereka melakukan semuanya itu. Pengajaran Yesus ini sekaligus menjadi peneguhan dan penyegaran kembali bagi mereka. Hidup memang butuh peneguhan dan penyegaran.

Pertanyaan selanjutnya ialah jika untuk mengikut Yesus dan masuk Sorga seorang murid harus kehilangan segala sesuatu, apakah itu berarti suatu kerugian besar? Tidak! Sebaliknya, orang yang menerima karunia hidup kekal dari Tuhan Yesus akan memperoleh anugerah istimewa karena ia mempunyai cara pandang yang baru: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Seorang murid akan menerima anugerah: duduk di dalam Kerajaan Sorga dan berkat dunia yang berlipat serta memperoleh hidup kekal. Ia menjanjikan tiga (3) anugerah yang istimewa.

Mari kita belajar dari Ayub. Ayub adalah orang terkaya di Timur Tengah saat itu, namun ia adalah hamba Allah terpilih. Daud, Yosafat, Yosia, Hizkia  adalah raja-raja yang kaya, tetapi kekayaan mereka tidak pernah menguasai hidup mereka. Mereka lebih menyukai kemurahan Allah daripada kebesaran duniawi mereka. Mereka semua memperlihatkan kepada kita bahwa “tidak ada yang terlalu sulit bagi Tuhan.” dan  sukacita mereka pun semakin bertumbuh. Pengajaran dan fakta hidup tokoh-tokoh iman dalam sejarah Kitab ini memberi penyegaran bahwa orang kaya yang mempunyai cara pandang yang baru, yaitu mau bergantung pada rahmat Allah dan menggunakan kekayaannya untuk berbagi dengan orang lain, ia akan mengalami Kerajaan Sorga dan pantas di sebut pengikut Yesus. Pengajaran Yesus hari ini sekaligus juga berarti bahwa “tidak semua orang miskin dan berkomitmen untuk membangun semangat miskin pasti masuk Kerajaan Surga dan pantas disebut pengikut-Nya, apabila dalam kemiskinan dan cara hidupnya itu ia menghabiskan seluruh waktunya menjadi hamba dan pencari harta dan melupakan rahmat Allah.” Hidup miskin dan bersemangat miskin memang akan jauh mempermudah seseorang untuk mengalami Sorga ketika menjadi sarana dan kesempatan untuk bergantung pada rahmat Allah. Perikop ini adalah sebuah panggilan dan tantangan bagi orang kaya, dan sekaligus bagi orang miskin dan para imam dan biarawan-biarawati yang bersemangat miskin.

(Romo Ant. Galih Arga W.A., Pr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Salus Edisi 64 Tahun 2015

Learning - Habit - Mission Baca Majalah Salus:  

Renungan Sabda: Luk 17:7-10 (Selasa, 13 November 2018, Pekan Biasa XXXII)

Murid yang Berkualitas    Doa Pembuka:      Bapa yang Maha Kasih, kami bersyukur atas cinta kasih yang Kau berikan kepada kami. Bantulah kami untuk meresapkan...

Renungan Sabda: Kolose 3:12-21 | Minggu, 29 Desember 2019

  Menjaga Keluarga oleh: Fr. Oot ChristianKeluarga adalah Gereja mini. Mulai dari keluarga, kasih Allah diajarkan dan dibagikan. Keluarga seharusnya menjadi tempat yang nyaman untuk pulang. Tetapi...

Renungan Sabda: Luk 2:33-35 (Pw. S.P Maria Berdukacita)-(Sabtu XXIII-B)

"Tetap Mengasihi Meski Menderita" Doa Pembuka Allah Bapa kami, Engkaulah sumber kebijaksanaan, syukur atas anugerah penyertaan-Mu. Kami mohon berkat-Mu, semoga memampukan kami untuk semakin berani berjuang...

Renungan Sabda: Luk 5:1-11 | Kamis, 5 September 2019 – Hari Biasa, Pekan Biasa XXII

Sumber: thedailyapologist.com DIPANGGIL oleh Fr. Fransiskus Xaverius Dhany Setyawan Saudari-saudaraku yang dikasihi Tuhan,Bacaan Injil pada hari ini mengisahkan panggilan yang dialami oleh Simon Petrus bersama dengan teman-temannya....