Renungan Sabda: Matius 22: 34-40 | Jumat, 23 Agustus 2019 – Hari Biasa Pekan XX

[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”3.0.47″][et_pb_row _builder_version=”3.21″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.21″][et_pb_text _builder_version=”3.21″ header_font=”||||||||” header_2_font=”||||||||” header_4_font=”||||||||” header_4_line_height=”1.3em”]

Upaya Mempermalukan Yesus

Injil hari ini diawali dengan komentar yang merujuk pada pengajaran Yesus sebelumnya yang membuat orang Saduki bungkam: “Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka.” Di hadapan orang-orang Saduki yang berpendapat bahwa tidak ada kebangkitan, Yesus justru menegaskan hal yang sebaliknya. Penjelasan Yesus membuat orang Saduki tidak bisa mengatakan apa-apa. Mereka bungkam. Di tengah situasi ini, rupanya kelompok ahli Taurat berkumpul dan ingin memanfaatkan keadaan. Seandainya Yesus, yang berhasil membuat orang Saduki itu diam, tidak bisa memberikan jawaban orang-orang Farisi, maka para ahli Taurat akan membuat Yesus malu. Konsekuensinya Ia tidak layak disebut rabi yang bisa diandalkan. Lebih dari itu kelompok ahli Taurat tentunya juga akan merasa lebih baik dari orang Saduki.

Si ahli Taurat datang kepada Yesus dan bertanya untuk mencobai Dia: “Dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Dengan menyebut Yesus sebagai guru, si ahli Taurat menyatakan niat jahatnya untuk menantang kehormatan Yesus. Ia bertanya bukan dengan maksud mendapatkan wawasan baru tentang Hukum, tetapi untuk menantang Yesus apakah Ia bisa memberikan jawaban atas persoalan yang menjadi bahan perdebatan itu atau tidak. Tradisi Yahudi banyak dipenuhi dengan produk hukum. Mereka mempunyai 248 perintah dan 365 larangan. Untuk menggarisbawahi keseriusan dalam Hukum, mereka sering memperingatkan bahwa pelanggaran terhadap perintah Hukum yang terkecil sekalipun adalah pelanggaran yang sangat serius. Ada ungkapan: ‘Melanggar perintah yang ringan sekalipun adalah hasil dari kesombongan’. Karena itu, si ahli Taurat berpendapat bahwa perintah mana pun yang dipilih Yesus akan dapat mereka permasalahkan.

 

Ajaran-Nya tentang Kasih kepada Allah membuat mereka tak berkutik

Yesus memberikan jawaban kepada mereka: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Jawaban Yesus terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama berpusat pada hubungan manusia dengan Allah Yang kedua berpusat pada hubungan manusia dengan sesamanya, dan komentar penutup tentang arti pentingnya kedua perintah ini. Yesus tidak memisahkan cinta untuk Tuhan dari cinta untuk manusia, karena yang terakhir mengalir dari yang pertama, dan karena tanpa yang terakhir yang pertama tidak mungkin. Jawaban ini membuat si ahli Taurat  tidak dapat berkata-kata. Si ahli Taurat tidak berkutik. Tanggapan Yesus ini tidak kontroversial dan bukan polemik, tetapi meredakan banyak tantangan.

Yesus mengutip kata-kata: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Kutipan ini adalah kutipan penting karena merupakan teks pokok dan terkenal dalam tradisi Yahudi. Orang-orang Yahudi yang saleh membacanya dua kali sehari. Bangsa Israel harus menghafal kata-kata ini, mengajar anak-anak mereka, dan mengenakan jumbai khusus (tzitzit) untuk mengingatkan diri mereka akan kata-kata ini. Itulah sebabnya Ia menambahkan:  “Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.”

Dengan menyatakan pentingnya perintah ini, Yesus menegaskan bahwa Ia dengan teguh berdiri dalam tradisi ini, dan dengan demikian harapan kelompok ahli Taurat untuk mempermalukan Yesus tidak terwujud.

 AjaranNya tentang kasih kepada sesama membuat mereka tak bersuara

 Tanpa menunggu reaksi dari si ahli Taurat, Yesus melanjutkan bagian berikutnya: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ajaran Yesus pada bagian kedua ini pastilah cukup kontroversial. Yesus memperluas batas-batas cinta dan karena itu juga membuka diri. Dalam Khotbah di Bukit Yesus mengajarkan bahwa seseorang harus mengasihi musuh. Cinta seperti itu melintasi cinta tradisional. Ajaran Yesus tentang mengasihi sesamanya berbeda dengan ajaran tradisional Yahudi. Orang-orang Yahudi sebagian besar membatasi tindakan mengasihi sesama kepada sesama Yahudi atau orang asing yang ada di dalam wilayah mereka. Yesus mengajarkan kasih kepada sesama tanpa batas-batas itu.

Dalam kedua  hukum itu Yesus menegaskan bahwa Ia menegakkan Hukum dan Para Nabi dan bahwa Ia memastikan pemenuhannya. Yesus tidak berniat menghapuskan Hukum: “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Mereka tidak mampu bersuara karena Yesus hadir sebagai guru yang menegakkan Hukum mereka.

 

Kasih adalah komitmen yang memampukan kita menjadi cinta.

Ketika Yesus berbicara tentang kasih, Ia sedang berbicara tentang komitmen. Kasih tidak searti perasaan hangat. Oleh karena itu untuk saling mengasihi, baik kepada sesama maupun musuh, tidak berarti kita harus merasakan kehangatan dari mereka. Kasih adalah komitmen dari pihak kita untuk menganggap serius kebutuhan mereka seperti Allah yang berkomitmen pada diri-Nya sendiri untuk menanggapi kebutuhan kita dengan mengirimkan Putra-Nya ke dunia ini.

Banyak pasangan yang membangun hidup perkawinan dapat bertahan dalam perkawinan mereka karena adanya komitmen. Pada saat si suami  semakin tua dan lemah secara fisik, serta selalu menuntut, rasanya kehangatan tidak akan pernah dialami oleh isterinya. Namun karena isterinya mempunyai komitmen untuk merawat, maka hidup perkawinan dapat bertahan. Demikian juga sebaliknya. Kesalahan dalam pernikahan bisa terjadi ketika mereka mengatakan saling jatuh cinta hanya karena adanya kehangatan dan saling pengertian satu sama lain, tetapi mereka tidak mempunyai komitmen. Ketika perasaan hangat memudar,  begitu pula pernikahan mereka akan memudar.

Komitmen akan menghantar kita pada kenyataan bahwa kita tidak lagi harus mencintai, tetapi kita justru menjadi cinta itu sendiri. Kita mencintai bukan agar kita mengalami surga. Kita menjadi cinta karena surga sudah menjadi milik kita. Kita tidak mencintai untuk memenangkan hati Tuhan. Kita menjadi cinta karena Tuhan sudah memenangkan hati kita. Kita tidak mencintai agar Allah mencintai kita. Kita menjadi cinta karena Allah telah mencintai kita di dalam Kristus dengan cinta terbesar yang pernah kita kenal, yaitu cinta Yesus yang tersalib.  Yesus datang untuk membuat kita menjadi sosok yang lebih pengasih. Ketika kita gagal menjadi cinta, mari kita kembali kepada Yesus yang mencintai kita dan membiarkan cinta-Nya menyinari kita dan kita pun akan menjadi sinar kasih-Nya ke dalam kehidupan orang-orang di sekitar kita.

(Romo Galih Arga W. A., Pr)

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Dirgahayu 50th! Rumah Pejuang Mimpi

         Berbicara mimpi, tidak berhenti hanya di imajinasi. Mimpi bersambung dengan visi, misi, strategi dan aksi untuk meraihnya. Begitu pula yang...

Matius 23: 23-26 | Selasa, 27 Agustus 2019 – Pw. S. Monika – Ibu St. Agustinus

Ketika keadilan, belas kasih dan kesetiaan terabaikan Seorang munafik adalah aktor atau penipu yang mengatakan satu hal tetapi melakukan yang sebaliknya. Yesus mengangkat masalah...

Renungan Sabda: Hari Senin Biasa Pekan Paskah II | 20 April 2020

LAHIR KEMBALI   oleh Fr. Alfa Amorista         Lahir kembali. Apakah mungkin? Kita tidak mungkin kembali ke rahim ibu dan terlahir kembali di rumah...

TANDA

T A N D A ---------- bukan barang yang istimewa bahkan pula kerap sangat sederhana memang selalu perlu suatu usaha untuk dapat mengungkap makna di dalamnya  tanda itu bukan semata-mata...