Matius 23: 23-26 | Selasa, 27 Agustus 2019 – Pw. S. Monika – Ibu St. Agustinus

[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”3.0.47″][et_pb_row admin_label=”row” _builder_version=”3.0.48″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.0.47″][et_pb_text admin_label=”Text” _builder_version=”3.21″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat” header_font=”||||||||” header_2_font=”||||||||” header_4_font=”||||||||” header_4_text_align=”justify” header_4_line_height=”1.6em”]

Ketika keadilan, belas kasih dan kesetiaan terabaikan

Seorang munafik adalah aktor atau penipu yang mengatakan satu hal tetapi melakukan yang sebaliknya. Yesus mengangkat masalah persepuluhan untuk menunjukkan seberapa jauh mereka telah meleset dari sasaran. Hukum Musa memerintahkan memberikan bagian sepersepuluhan dari hasil bumi: “Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun” (Ulangan 14:22), “Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN” (Imamat 27:30). Orang Farisi memberi penafsiran yang berlebihan dan menerapkannya secara cermat pada tumbuh-tumbuhan yang paling kecil: selasih, adas manis dan jintan. Yesus mencela karena mereka mengabaikan yang terpenting dalam hukum Taurat, yaitu: keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Mereka sangat teliti dalam membayar persepuluhan agar memperoleh nama baik dengan cara yang murah.

Mungkin sekali mereka mempunyai pamrih dan pertimbangan sendiri tentang sepersepuluhan ini. Para imam dan orang-orang Lewi yang menerima pembayaran persepuluhan itu berada di bawah pengaruh ahli Taurat dan orang Farisi, dan mereka dengan caranya akan membalas kebaikan Ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus mencela sikap “saling ketergantungan dan menguntungkan” ini karena sekaligus mempermainkan Allah dan sesama serta menipu diri sendiri. Sikap memberi makan orang-orang yang menggemukkan diri dengan persembahan kepada Tuhan, dan pada saat yang sama menutup pintu belas kasihan kepada seorang saudara atau saudari yang dan kekurangan makanan sehari-hari adalah dusta. Sikap membayar persepuluhan dari selasih kepada para imam tetapi tidak bersedia memberikan remah-remah roti kepada orang miskin berarti dusta secara terang-terangan tanpa belas kasihan terhadap keadilan. Itulah sebabnya Yesus berkata:  “Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”

Adakalanya di balik perbuatan yang kelihatannya baik kita menyusupkan “pamrih” kita. Pamrih adalah maksud dan kehendak terselubung untuk memenuhi kebutuhan diri kita. Sejauh mana “pamrih-pamrih” itu memotivasi perbuatan-perbuatan kita?

 

Ketika kemunafikan bertopeng kesalehan

Mereka menghindari dosa-dosa kecil, tetapi melakukan dosa yang lebih besar: “Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.” Mereka menapiskan nyamuk dengan cara memperingatkan orang-orang terhadap setiap pelanggaran yang terkecil. Tetapi mereka menelan rumah-rumah para janda, mereka benar-benar menelan seekor unta. Yesus menegaskan bahwa dosa sekecil nyamuk sekalipun memang harus ditapiskan. Tragisnya adalah setelah menapis yang kecil mereka lalu menelan unta. Mereka seolah-olah bersikap saleh pada hal-hal kecil, tetapi bersabahat dengan dosa besar. Inilah kemunafikan. Itulah sebabnya Yesus mencela perilaku mereka.

Mereka ibarat cawan yang dibasuh bersih sebelah luarnya, tetapi kotor di bagian dalamnya: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.”  Orang-orang Farisi menempatkan agama hanya sebagai tata krama belaka, misalnya, kebiasaan mencuci cawan. Mereka sangat memperhatikan perihal menyantap makanan dari cawan dan pinggan yang bersih, tetapi tidak memedulikan suara hati bahwa makanan itu mereka peroleh melalui pemerasan, dan bahwa mereka berfoya-foya dengan makanan itu. Inilah yang membuat Yesus merasa jijik.

Kita dipanggil untuk merawat jiwa kita dan memastikan niat baik di balik tindakan kita. Kita perlu memeriksa hati kita sesering mungkin agar kita dapat bekerja dan melayani dengan niat yang tulus dan murni. Andaikata kita bekerja dan melakukan pelayanan hanya untuk mendapatkan tempat dan hormat tetapi kurang dalam amal kasih kepada orang-orang yang membutuhkan, sekarang adalah saatnya untuk berubah.

 

(MoDjokS)

 

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Renungan Sabda: Hari Senin Biasa Pekan Paskah II | 20 April 2020

LAHIR KEMBALI   oleh Fr. Alfa Amorista         Lahir kembali. Apakah mungkin? Kita tidak mungkin kembali ke rahim ibu dan terlahir kembali di rumah...

Renungan Sabda: Lukas 7,31-35 | Rabu, 18 September 2019 | Hari Biasa

 Sumber Gambar: https://alert-it.co.uk/wp-content/uploads/2014/12/Lend-a-HAND-450x300.jpg Menerima Apa Adanya oleh: Fr. Gandhi Raka“Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.”Suatu hari, saya melewatkan waktu di sebuah kantin...

Renungan Sabda: Markus 9:2-13 (Pw. S. Polikarpus)

Keadilan bagi sesama  Doa Pembuka    Allah Bapa Maharahim, terpujilah kemurahan hati-Mu. Semoga melalui belas kasih-Mu yang Engkau berikan kepada kami, kami dapat terus setia dan...

Renungan Sabda: Matius 6:1-6,16-18 (Rabu Abu)

Tahu dan Mesin Ketik       Pernahkah anda makan tahu? Saya yakin kita semua pernah makan tahu dengan berbagai macam varian, entah bacem, semur, goreng...

Renungan Sabda: Lukas 15:1-10 (Singkat) | Minggu, 15 September 2019 | Hari Minggu Biasa XXIV

  Yesus Kristus Penyelamat yang Hilang Fr. Agustinus Erfan Sanjaya Simamora   Yesus Kristus duduk dan makan bersama orang-orang berdosa merupakan tindakan cinta kasih-Nya kepada setiap manusia....