Renungan Sabda: Markus 6: 17-29 | Kamis, 29 Agustus 2019 – Pw. Kemartiran S. Yohanes Pembaptis

[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”3.0.47″][et_pb_row admin_label=”row” _builder_version=”3.0.48″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.0.47″][et_pb_text admin_label=”Text” _builder_version=”3.21″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat” text_font=”||||||||” header_font=”||||||||” header_4_font=”||||||||” header_4_line_height=”1.6em”]

Demi kebenaran Yohanes Pembaptis mati syahid

Markus mencatat penangkapan, pemenjaraan, dan kematian Yohanes Pembaptis: “Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. Karena Yohanes pernah menegor Herodes: “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!”.  Ini adalah kisah yang mengerikan dan mencerminkan kekejaman manusia.  Yohanes Pembaptis dianggap salah justru karena ia jujur dan ​​benar. Ia menyampaikan pendapatnya kepada Herodes bahwa tidak sah baginya untuk menikahi Herodias, istri saudaranya. Herodias mendengar pendapat ini, dan dia menyimpan dendam terhadap Yohanes Pembaptis. Api dendamnya menuntun pada keinginan untuk membunuh: “Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia.” Namun, dia tidak memiliki wewenang atau sarana untuk melakukannya. Herodias adalah wanita yang pandai, manipulatif, dan licik, dan ia mulai merencanakan cara membalas dendam pada Yohanes Pembaptis.Akankah kita memiliki kekuatan dan keberanian untuk memperjuangkan kebenaran dengan jujur? Akankah kita menyerah untuk menyenangkan orang lain atau agar kita terlihat baik oleh orang lain?  Mari kita bercermin dari Yohanes Pembaptis dan memohon kepada Allah agar kita memiliki kekuatan dan keberanian untuk berani menyampaikan apa yang kita yakini baik dan benar, bahkan jika orang lain mungkin tidak menyetujui tindakan kita. Tindakan ini tidak mudah karena kadang membuat hati terombang-ambing untuk membuat pilihan. Pilihan untuk berdiri teguh memegang keyakinan dan kebenaran akan lebih sering dibarengi dengan pengorbanan diri.

Tidak semua orang dipanggil untuk mati syahid

Kematian kadang-kadang merupakan harga yang harus dibayar untuk sekadar menyatakan kebenaran: “Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara.” Namun demikian, hal yang pokok dalam kemartiran bukanlah kematian, melainkan komitmen untuk mencintai kebenaran Allah. Dalam membela Kebenaran, sikap diam dan kompromi tidak memiliki tempat. Justru karena cinta akan kebenaran, dia tidak membungkuk untuk berkompromi dan tidak takut untuk menyampaikan kata-kata benar kepada siapa pun yang menyimpang dari jalan Allah. Kebenaran adalah Kebenaran, tidak ada kompromi. Kebenaran adalah tetap kebenaran, tidak ada jalan tengah. Semangat “kemartiran” akan tumbuh dan berkembang berkat kesetiaan harian kita pada Sabda Tuhan: membiarkan Kristus bertumbuh di dalam kita dan membiarkan Dia menjadi Dia yang menuntun pemikiran kita dan tindakan kita.”  Tidak semua orang pengikut Yesus dipanggil untuk mati syahid. Ada yang  dipanggil untuk memberikan darahnya sekali dan untuk semua. Ada yang dipanggil untuk memberikan darahnya setetes demi setetes, melalui kesaksian iman mereka. Jenis kemartiran yang kedua ini juga merupakan berkat bagi Gereja dan masyarakat. Paus Emeritus Benediktus XVI menjelaskan bahwa dasar kemartiran adalah undangan Yesus kepada para murid-Nya untuk “memikul salibnya setiap hari dan mengikuti jalan cinta total bagi Allah dan kemanusiaan”. Inilah jalan kekudusan dan kemartiran seorang murid. Karena itu, seorang martir adalah pribadi yang menyatakan cinta total kepada Tuhan, yang selalu “meningkatkan” kebebasannya dari kekuatan dunia. Di tengah budaya keegoisan dan mencari pemenuhan kepuasan diri yang nampaknya menang ini, kita diajak membuat komitmen untuk tidak membungkuk hormat dan berkompromi dengan arus ini. Itulah pokok dan inti kemartiran Yohanes Pembaptis dan kemartiran kita.

(MoDjokS)

 

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Renungan Sabda: Lukas 9:18-22 | Jumat, 27 September 2019 | Pw. S. Vinsensius a Paulo, Imam

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi  Siapakah Aku Ini? oleh: Fr. R.D. Putra Setiawan Hari ini Gereja memperingati peringatan wajib Santo Vinsensius a Paulo seorang imam dan pelayanan pastoralnya...

Renungan Sabda: Markus 8:11-13 (Senin Biasa Pekan VI)

Allah, bagai Orang Tua yang BaikDoa Pembuka:     Allah yang penuh kasih, kami bersyukur atas anugerah hidup ini. Kami ingin menemukan makna...

Renungan Sabda: Yohanes 6:52-58. | Jumat, 1 Mei 2020. | Hari Biasa Pekan Paskah III

Tubuh dan Darah Kristus Fr. Marselinus Yudhi Nugroho  Manusia membutuhkan makanan sebagai kebutuhan jasmani dan rohani. Makanan manusia untuk memenuhi kebutuhan jasmani adalah 4 sehat...

Dia yang Memberikanku Kupu-Kupu

Dia yang Memberikanku Kupu-Kupudia adalah wanita yang menaruh air matanya pada bak mandi. tempatku mandi, saat tubuhku tak ingin mandi sendiri. dia adalah wanita yang menimang...

Mencari…

Mencari...   Menatap bulan purnama Ditemani bisikan lembut angin Yang menyanjung hati risau Diiringi oleh melodi kalbu   Arus Distorsi mengacaukan Permenungan tujuan Pudarkan fiksi khayal Sempat terlintas membisu   Tenangkan gejolak di dada Yang mempertanyakan segala Keberadaan...