Renungan Sabda: Luk 4:31-37 | Selasa, 3 September 2019 – Pw S. Gregorius Agung, Paus PujG (P)

[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”3.0.47″][et_pb_row admin_label=”row” _builder_version=”3.0.48″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.0.47″][et_pb_text quote_border_weight=”27px” quote_border_color=”#e02b20″ admin_label=”Text” _builder_version=”3.21″ text_font=”||||||||” quote_font=”Cabin||||||||” quote_text_align=”right” quote_text_color=”#0c71c3″ quote_font_size=”23px” quote_line_height=”1.2em” header_font=”||||||||” header_2_font=”||||||||” header_2_text_color=”#651906″ header_2_font_size=”27px” header_3_font=”||||||||” header_4_font=”||||||||” header_4_text_color=”#651906″ header_4_font_size=”19px” header_4_line_height=”1.5em” background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat” custom_margin=”||0px”]
Sumber: pinterest.com

MELIHAT DENGAN HATI

oleh Fr. Yohanes Yayan Riawan

            Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang orang-orang Kapernaum yang takjub dan heran akan apa yang dilakukan dan diajarkan oleh Yesus dengan sikapnya yang penuh dengan kewibawaan. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kisah dalam ayat-ayat sebelumnya, dimana orang-orang Nazareth tidak percaya akan Yesus dan ajaran-Nya. Orang-orang Nazareth merasa mengenal Yesus dan keluarga-Nya, karena Yesus berasal dari Nazareth. Mereka “memandang rendah” Yesus karena Yesus hanya berasal dari keluarga tukang kayu. “Kebutaan hati” membuat mereka tidak percaya bahwa Mesias akan datang dari Nazareth. Karena itu mereka menolak, bahkan berusaha menyingkirkan Yesus.

            Sungguh ironis, orang-orang yang berasal dari lingkungan yang dekat dengan Yesus tidak mau percaya dan menolak-Nya, sedangkan orang-orang yang berasal dari daerah lain, justru heran dan terkagum-kagum dengan apa dilakukan dan diajarkan oleh Yesus. Roh jahat diusir-Nya dengan penuh kuasa dan ajarannya yang mengagumkan karena penuh wibawa, membebaskan orang dari belenggu setan dan kejahatan. Namun ada hal yang menarik pula di sini bahwa meskipun apa yang dilakukan oleh Yesus dalam kata dan perbuatan-Nya membuat orang-orang Kapernaum kagum, tetapi kekaguman itu tidak membawa mereka pada perbuatan selanjutnya yaitu percaya dan kemudian mengikuti Yesus. Mereka hanya berhenti pada rasa kagum, sedangkan hati dan iman mereka tidak tersentuh.

            Ada dua poin yang dapat kita renungkan melalui bacaan Injil hari ini. Pertama, bagaimana sikap kita terhadap orang lain selama ini? Apakah kita selama ini sama dengan orang-orang Nazareth yang hanya melihat dan menge-judge orang dari tampilan luarnya saja tanpa melihat kebaikan hati yang ada dalam diri orang lain? Kedua, banyak hal dalam hidup ini yang membuat kita berdecak kagum; baik itu ketika kita melihat keindahan alam, kecantikan orang lain, atau pun kisah perjalanan kehidupan kita. Pertanyaannya, apakah kekaguman-kekaguman yang kita alami itu kemudian kita bawa dalam rasa syukur pada Dia yang adalah sumber segala ciptaan? Apakah kekaguman yang kemudian kita syukuri itu semakin menguatkan iman kita kepada-Nya? Semoga rasa kagum dan kesadaran akan keagungan Tuhan semakin membawa kita pada kewibaan sebagai anak-anak Allah, sehingga akhirnya kita dapat menjadi berkat bagi banyak orang. []

 

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Matius 23: 13-22 | Senin, 26 Agustus 2019 – Hari Biasa Pekan XXI

Yakub melihat Pintu Surga dalam mimpi? Ketika Yakub melarikan diri dari saudaranya, Essau, yang ingin membunuhnya karena mencuri hak kesulungannya (Kejadian 27:41), ia mencari perlindungan...

Renungan Sabda: Luk 17:5-10 | Minggu, 6 Oktober 2019 |Hari Minggu Pekan XXVII

https://www.merdeka.com/gaya/4-cara-ampuh-untuk-mengatasi-rasa-gelisah.htmlLetakkan dan Percayalah Fr. M. Victor Drajad S“Sekiranya kamu memiliki iman sebesar biji sesawi...”     Saat ini hidup kita terlalu banyak diliputi rasa kekawatiran. Sebut...

Sejarah Perkembangan Seminari

Kehadiran Seminari Tinggi St. Paulus merupakan berkat kepedulian Mgr. Petrus Willekens SJ, Vikaris Apostolik Batavia (1933-1952), untuk mengakarkan warta Injil Yesus Kristus dalam Gereja...

Renungan Sabda: Markus 10:13-16 (Sabtu Biasa Pekan VII)

Anak Kecil, Empunya Kerajaan AllahDoa Pembuka:     Allah Bapa Mahakasih, Engkau menciptakan segala sesuatu baik adanya. Ajarilah kami untuk menghargai dan meluhurkan segala ciptaan-Mu....

Renungan Sabda: Kol 3:1-11; Luk 6:20-26 | Rabu, 11 September 2019 | Hari Biasa Pekan XXIII

  Kebahagiaan Kita adalah Iman akan Allah yang Penuh Kasih oleh: Fr. Benedictus Adiatma Murti WibowoTujuan hidup manusia yang paling utama ialah mencapai atau merasakan kebahagiaan....