Renungan Sabda: Lukas 14:15-24 | Selasa, 05 November 2019 | Hari Biasa Pekan XXXI

[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”3.0.47″][et_pb_row custom_padding=”11px|0px|12px|0px|false|false” admin_label=”row” _builder_version=”3.0.48″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.0.47″][et_pb_text quote_border_weight=”27px” quote_border_color=”#e02b20″ admin_label=”Text” _builder_version=”3.21″ text_font=”||||||||” quote_font=”Cabin||||||||” quote_text_align=”right” quote_text_color=”#0c71c3″ quote_font_size=”23px” quote_line_height=”1.2em” header_font=”||||||||” header_2_font=”Atma|||on|||||” header_2_text_align=”center” header_2_text_color=”#c80e04″ header_2_font_size=”27px” header_2_letter_spacing=”2px” header_2_line_height=”1.1em” header_2_text_shadow_style=”preset4″ header_3_font=”Atma||||||||” header_3_text_color=”#e02b20″ header_4_font=”Atma||||||||” header_4_text_color=”#651906″ header_4_font_size=”19px” header_4_line_height=”1.5em” header_5_font=”Atma||||||||” header_5_text_color=”#e02b20″ header_5_letter_spacing=”3px” header_5_text_shadow_style=”preset4″ header_6_font=”Advent Pro||||||||” background_size=”contain” background_repeat=”round” background_blend=”difference” border_width_left=”0px” custom_margin=”||0px”]

DOSA KEMALASAN

Fr. Nicolaus Surya Pradana

““Tetapi mereka bersama-sama minta dimaafkan. (Luk 14:18)

   “Tetapi mereka bersama-sama minta dimaafkan.” (Luk 14:18) Perikop ini menjadi sebuah permenungan yang saya rasa tepat. Secara personal saya menggaris bawahi kata-kata “minta dimaafkan.” Kata “maaf” memiliki maksud dan tujuan yang positif, namun kerap menjadi negative, apalagi berkaitan dengan tugas.

     Sebagai seorang pelajar saya memiliki tugas utama belajar. Dalam proses belajar selalu ada latihan, penugasan, dan apapun namanya yang intinya harus ada hasil yang tampak. Bahasa anak sekolah adalah Pekerjaan Rumah (PR) sedangkan anak kuliahan mengenalnya dengan paper. Tugas dikerjakan, ditulis dan kemudian dikumpulkan kepada guru/dosen.

   Seorang yang memiliki tugas dan menyelesaikan tugas itu sudah sewajarnya, namun bagaimana bila kita lupa? Inilah yang pernah saya alami sebagai pelajar. Suatu hari, saat pelajaran, sebut saya pelajaran A, kami diberi tugas dan harus dikumpulkan minggu berikutnya. Sialnya, selama satu minggu itu kami penuh dengan tugas dan tugas pertama ditumpuk dengan tugas yang baru terus menerus. Minggu berikutnya dalam pelajaran A tadi saya tidak mengerjakan dan baru saya tahu pagi harinya ketika menyiapkan buku. Akhirnya, saya cepat-cepat berangkat ke sekolah dan mengerjakannya dengan cepat, dengan bantuan yang lebih banyak.

     Kejadian seperti ini tentu pernah dialami masing-masing pribadi dan ini bukan lagi Sistem Kebut Semalam tapi Sejam di lain waktu bisa semenit dan sebagainya. Saya menyadari bahwa ini merupakan bentuk pemaafan saya terhadap diri saya sendiri. Saya terus memaafkan bahwa tugas sudah banyak jadi wajar kalau ada keterlambatan atau tergesa-gesa. Namun ini salah.
Saya sering memaafkan diri sendiri dengan berbagai alasan. Ketika saya menghadapkan peristiwa memaafkan itu dengan injil hari ini muncul kesadaran baru. Memaafkan diri sendiri dengan mengampuni kelemahan dengan cara mencari-cari alasan bukanlah hal yang positif. Maksud saya adalah dengan tugas yang telah diberikan kepada saya tentu saya harus mengerjakannya dengan baik bukan bermalas-malasan. Kemalasan saya adalah wujud pemaafan diri sendiri yang tidak beralasan kokoh dan seorang pemalas adalah pendosa.

 

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

Latest

Renungan Sabda: Matius 17: 10-13 | Sabtu, 14 Desember 2109 | Pw. Santo Yohanes dari Salib

  Mengenal Sang Immanuel Fr. Yohannes Bramanda R. K.    Semua orang seolah-olah tahu siapa Tuhan. Mereka dapat mengatakan apa saja dengan mengatasnamakan Tuhan; namun apakah...

Renungan Sabda: LUKAS: 13: 22-30 (Rabu Pekan XXX–B)

DALAM ALLAH, HADIR KESELAMATAN DOA PEMBUKA         Allah yang Mahakuasa, Engkaulah sumber dan jalan keselamatan umat beriman. Kami mohon kepada-Mu, hantarlah kami ini...

Matius 23: 13-22 | Senin, 26 Agustus 2019 – Hari Biasa Pekan XXI

Yakub melihat Pintu Surga dalam mimpi? Ketika Yakub melarikan diri dari saudaranya, Essau, yang ingin membunuhnya karena mencuri hak kesulungannya (Kejadian 27:41), ia mencari perlindungan...

Renungan Sabda: Lukas 10:25-37|Senin, 7 Oktober 2019|Pw. Santa Perawan Maria Ratu Rosario

http://3.bp.blogspot.com/-q_atSP07Rak/UiKZymhbUCI/AAAAAAAAAO4/Vgydh9RhhYE/s1600/Wallpaper_Jesus-Washed-Peters-Feet_By-Heri-Kurniawan-WSK.jpg   Tergerak Menjadi Pembawa Berkat Bagi Orang Lain Fr. Atanasius Deimen Wahana Utama“Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup”    “Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup” Sabda...

Renungan Sabda: Mrk. 5:1-20 (Senin, 4 Februari 2019 Pekan Biasa IV)

"YANG TERUTAMA ADALAH KEMULIAAN ALLAH"Doa Pembuka Allah Bapa, Sumber Kedamaian, berkenanlah menunjukkan jalan. Tuntunlah kami dengan tanganMu. Berikanlah SabdaMu sebagai pedoman, sebab kami berniat mencari...