Renungan Sabda: Matius 4:18-22 | Sabtu, 30 November 2019 | Pesta S. Andreas, Rasul

[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”3.0.47″][et_pb_row admin_label=”row” _builder_version=”3.0.48″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.0.47″][et_pb_text quote_border_weight=”27px” quote_border_color=”#e02b20″ admin_label=”Text” _builder_version=”3.21″ text_font=”||||||||” quote_font=”Cabin||||||||” quote_text_align=”right” quote_text_color=”#0c71c3″ quote_font_size=”23px” quote_line_height=”1.2em” header_font=”||||||||” header_2_font=”Atma|||on|||||” header_2_text_align=”center” header_2_text_color=”#c80e04″ header_2_font_size=”27px” header_2_letter_spacing=”2px” header_2_line_height=”1.1em” header_2_text_shadow_style=”preset4″ header_3_font=”Atma||||||||” header_3_text_color=”#e02b20″ header_4_font=”Atma||||||||” header_4_text_color=”#651906″ header_4_font_size=”19px” header_4_line_height=”1.5em” header_5_font=”Atma||||||||” header_5_text_color=”#e02b20″ header_5_letter_spacing=”3px” header_5_text_shadow_style=”preset4″ header_6_font=”Advent Pro||||||||” background_size=”contain” background_repeat=”round” background_blend=”difference” border_width_left=”0px” custom_margin=”||0px”]

Sumber Gambar: http://www.terang-sabda.com/2014/07/mengenal-kitab-suci-dan-penafsirannya.html

Mendengar dan Bertindak

Fr. Saptono

Ibu, bapak dan saudara-saudari yang terkasih, berkah Dalem. Hari ini kita merayakan pesta Santo Andreas Rasul. Ayahnya, bernama Yohanes, bekerja sebagai nelayan. Andreas juga bekerja sebagai nelayan. Ia bersama saudaranya, Simon yang disebut Petrus, merupakan murid-murid pertama Yesus. Panggilan sebagai murid diterima oleh Andreas dan Simon ketika meraka sedang menebarkan jala di danau. Panggilan itu dijawab oleh Anderas dan Simon dengan pergi meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus.

Ketika merenungkan panggilan Andreas ini, saya teringat akan sebuah cerita antara perempuan buta dan seorang pemuda. Perempuan buta bekerja sebagai pengemis. Suatu malam, perempuan buta ini seperti biasanya mengemis di depan sebuah toko. Malam itu hujan lebat. Anaknya yang biasa mengantar dan menjemput tak kunjung datang. Setelah lama kemudian, hujan mulai reda. Kemudian, ia mendengar langkah kaki berbunyi di depannya. Ia memanggil orang yang lewat itu dan berkata “Saudara tolong antarkan saya pulang ke rumah”. Pemuda itu berhenti dan menjawab “Apakah ibu meminta tolong kepada saya?”. “Ia” jawab ibu itu.

Pemuda itu mendekat, membantunya untuk berdiri dan menuntun perempuan buta itu pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah, pemuda itu berkata “Ibu, mengapa tadi memanggil saya, bukankah sebelum saya datang sudah ada banyak orang yang lewat”. Jawab ibu itu “Saya sudah bertahun-tahun berada duduk di depan toko itu mengemis. Saya kenal semua langkah kaki orang-orang yang lewat itu. Mereka tidak mendengarkan saya, apalagi memberi membantu. Langkah kakimu berbeda dari mereka dan kamu pasti orang yang berbeda pula dari mereka.” Ceritanya selesai.

Ibu, bapak dan saudara-saudari yang terkasih, saya hanya mau menyampaikan dari cerita itu bahwa pemuda itu mendengar panggilan dan ia bertindak, demikianpun juga dengan Andreas dan Simon. Andreas pergi meninggalkan jalanya ketika dipanggil oleh Yesus, “Mari ikutlah Aku dan kamu akan kujadikan penjala manusia (Mat. 4:19)”. Yesus kini juga memanggil kita sebagai murid-murid-Nya. Kalau kita mengaku murid-murid Yesus, kita juga seharusnya mendengarkan panggilan-Nya dan bertindak.

Yesus memanggil para murid untuk mewartakan cinta kasih Allah, kita pun dipanggil untuk itu. Namun kita kadang ragu jika mengalami kesulitan dan tantangan karena kita merasa lemah dan tidak layak untuk tugas perutusan itu. Perlu diingat, Yesus tidak memanggil dengan ukuran mata manusia. Yesus melihat hatinya. Yesus yang memanggil kita tidak akan membiarkan kita berjalan sendirian dalam perutusan itu. Ia akan membantu kita dalam melakukan tugas yang kita lakukan. Hanya sekarang, kita butuh percaya dan taat kepada-Nya sebagaimana Andreas yang percaya dan taat pada Yesus Kristus.

Supaya kita dapat percaya pada panggilan kita masing-masing, mari kita dengarkan suara-Nya dengan membaca dan merenungkan sabda-Nya. Kita mohon rahmat Allah supaya kita dimampukan untuk mendengar dengan jernih apa yang menjadi panggilan kita, supaya kita dapat seorang murid yang setia dan taat dalam mewartakan cinta Kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dimulikanlah Tuhan kini dan sepanjang masa. Amin. []

 

 

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

Renungan Luk 14:1.7-11 (Sabtu, 3 November 2018, Pekan Biasa XXX)

"Bekerja dan Menghasilkan Buah untuk Diri Sendiri, Orang Lain, dan Tuhan" Doa Pembuka Allah Bapa yang Mahakasih, kami mohon bukalah mata kami untuk melihat kebaikan-mu, bukalah...

Lomba Kerakyatan 17-an

    Seminari Tinggi mengadakan lomba kerakyatan pada hari Senin-Selasa 11-14 Agustus 2018. Lomba ini bertujuan untuk memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia ke-73 tahun sekaligus...

Renungan Sabda: Matius 3:1-12 | Minggu, 8 Desember 2019. | Hari Minggu Adven II

  TanggungjAWAB wEWENANG   Fr. FX. Dhany Setiawan"....Semakin menjadi pribadi yang mampu melaksanakan tanggung jawab sebaik-baiknya."    Saudari-saudara yang dikasihi Tuhan, waktu berjalan dengan begitu cepat...

Interfaith Voice: Simfoni Nada Keberagaman

        Siapa bilang berbeda itu menakutkan? Berbeda suku, ras, karakter, bahkan juga agama adalah sebuah keniscayaan dan layak dirayakan. Namun, patut...

Renungan Sabda: Luk 10 : 1-12 (Kamis Pekan XXVI-B)

"Perpanjangan Tangan Kasih Tuhan" Doa Pembuka Allah Bapa Sang Empunya Tuaian, kami bersyukur atas buah-buah kasih yang kami terima hari ini. Semoga hari ini kami...