Menjadi Martir Jaman Now

Fr. Patrik Diego Arbi Arwendi

 …dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan.

Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan…”

-Kis 20:19-

 Saudara-saudari yang terkasih,

      Ungkapan Santo Paulus di atas menunjukkan suatu keteladanan iman yang luar biasa mengenai pelayanan yang rendah hati. Agaknya, St. Paulus telah menyelesaikan tugas dan perutusannya dengan amat baik. Dikisahkan dalam Kisah Para Rasul bahwa para Penatua Efesus menjadi saksi pelayanan Santo Paulus yang telah berusaha melayani Tuhan dengan sebaik mungkin.

          Kata “pelayanan” tentu bukanlah kata yang asing bagi kita. Akan tetapi apakah pelayanan sudah menjadi nilai yang mendarah daging dalam hidup kita? Harus diakui bahwa melayani terkadang menjadi hal yang tidak mudah karena kita hanya mementingkan diri kita sendiri. Padahal, pelayanan mensyaratkan suatu nilai pengorbanan, ketulusan, dan tentunya juga kerendahan hati. Tanpa ketiga nilai itu, pelayanan tidak lagi menjadi pelayanan, melainkan hanya menjadi ungkapan keterpaksaan.

       Semua dari kita dipanggil untuk menjadi pelayan, entah menjadi pelayan Tuhan maupun sesama. Tampaknya, pelayan itu bukan masalah status atau profesi, melainkan sebuah spiritualitas dan semangat. Maka dari itu, nilai pelayanan bisa dimiliki oleh siapa saja, bahkan termasuk bagi orang-orang terhormat dan berpangkat. Ada banyak contoh dalam Gereja kita, tokoh-tokoh yang mau melayani Tuhan dan sesama dengan rendah hati, sebut saja Bunda Teresa, Paus Fransiskus, Romo Mangunwijaya, dan lain sebagainya.

      Maka dari itu, mari kita tanamkan dalam batin kita masing-masing suatu semangat dan spiritualitas untuk mau melayani. Layanilah orang lain dengan tulus dan rendah hati sebagaimana teladan Yesus Kristus sendiri. Yakinlah bahwa pelayanan yang tulus dan rendah hati akan menghasilkan buah berlimpah bagi hidupmu.

Berkah Dalem.

 

 

 

Switch Language >>