Ungkapan Hati yang Jujur

 

oleh Fr. Agustinus Dwi Prasetyo

 

“Yang diharapkan dari kita adalah kedekatan relasi dengan-Nya.”

 

Saudara-saudara terkasih, kita tentu pernah mengalami jatuh cinta pada seseorang yang bikin mabuk kepayang. Bahkan, yèn wis ngrasakké tresna, paiting kopi rasaning legi – kopi pahit pun terasa manis. Dari sekian pengalaman menarik ketika jatuh cinta, ada satu hal yang ingin saya bahas, yaitu ungkapan “aku mengasihimu” untuk mengungkapkan cinta pada pasangan.

Anda yang pernah saling jatuh cinta dan kini menikah, pasti tidak hanya sekali mengungkapkan cinta kepada pasangan. Anda mengungkapkannya berkali-kali, bahkan tak terhitung. Apakah Anda mengungkapkannya berkali-kali karena pasangan Anda tidak mengetahui perasaan Anda? Saya rasa bukan.

Meskipun telah mengetahui bahwa Anda mencintainya, Anda berdua senang: Anda senang mengungkapkannya dan pasangan Anda senang menerima ungkapan itu. Sebenarnya apa yang terjadi? Rupanya ungkapan kasih ini bukan bertujuan memberi pemahaman, melainkan membuat relasi antara Anda berdua makin intim. Dengan kata lain, emosi yang terlepas ketika Anda mengungkapkannya ditangkap oleh pasangan sehingga Anda berdua semakin akrab dan dekat.

Demikian juga dengan yang Yesus lakukan ketika berdoa kepada Bapa bagi kita dalam bacaan Injil hari ini. Bapa sudah tahu apa yang diungkapkan Yesus dan sebenarnya Yesus tidak perlu mengungkapkan hal-hal itu kalau hanya sekadar supaya Bapa tahu. Ia mengungkapkan kedekatan dengan Bapa, sekaligus mengungkapkan kasih-Nya yang begitu besar bagi kita.

Yesus memberi teladan bagi kita, bagaimana berdoa. Bapa itu sudah tahu yang menjadi kerinduan kita. Yang diharapkan dari kita adalah kedekatan relasi dengan-Nya. Maka ketika kita berdoa, bawalah perasaan kita secara jujur. Kadang kita butuh mengungkapkan emosi kita di hadapan-Nya sebagai kebutuhan kita “curhat”. Tapi sering kali pula, kita hanya butuh hadir di hadapan-Nya dan diam, hanya supaya kita dekat dengan Allah, karena Allah sudah tau kerinduan kita. Sering kali pula, merasa dekat dengan Allah seperti itu ternyata adalah kerinduan kita yang sesungguhnya, melebihi yang kita mohonkan melalui kata-kata yang diungkapkan itu. []

 

 

 

Switch Language >>