“Beda Kiblat, Tetap Melayani”

Senja membiru. Mbak Rini, yang tiap harinya berprofesi sebagai penjual mie ayam di depan seminari, kali ini alih profesi sebagai ibu dapur penyuplai gizi para frater. “Mas-mas frater itu sudah seperti anak sendiri. Kalau pas jajan mie ayam di warung, rasanya seperti menyambut anak saya yang pulang sekolah”, tuturnya. Ah, Mbak Rini, bisa aja! (rnd)

“Team Tank: Bersama lebih baik!”

Garis finish mungkin cemburu. Karena lini proses jauh lebih cair, memikat, dan melenturkan urat ego pribadi. Lagi, lagi…bersama memang jauh lebih baik. Coba lihat, mana yang berpangkat, mana yang tak terpantik derajat, urung dari penyekat. Hmm, pribadi hebat makin kuat dalam laku bersama sahabat. (rnd)

“Piye, isih dha semangat ta?”

Meski tak sempat berjumpa raganya, tapi spiritnya tak lekang zaman dan generasi. Tiap kali mendengar kicau burung-burung manyar, seakan ia hadir membisikkan pesan: “Lihat, dengarkan, tambatkan hatimu untuk saudara-saudaramu yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir!”. Semangat memanusiakan manusia bukan lagi misteri, tapi jalan mengamini panggilan sebagai orang beriman. (rnd)

“Ke hadirat-Mu”

“Tuhan, Engkau mau aku jadi apa?”, batinku. Raguku pada diri sendiri. S’bab rasaku, tak ada sesuatu yang istimewa kumiliki, selain sejauh rapal doa dan serah nafas yang bisa kuhirup-hembuskan. Hanya itulah yang mengingatkanku bahwa Kau memiliku. Sudah, cukup bagiku!  (rnd)

“Harta Cemara”

“Salahkah apabila harta yang paling berharga adalah keluarga? Kelirukah bahwa puisi yang paling bermakna adalah keluarga? Atau justru sesatkah jika mutiara yang paling indah adalah keluarga?

Tidak, semuanya itu tidak benar tapi itu semua sudah mati. Tatkala sang milenialis menginvansi, afeksi kini terdigitalisasi, intimitas hanya sebatas bedak dan gengsi, perlukah definisi keluarga direvisi?

Ya, semuanya perlu dibangkitkan. Keluarga milenial tidak tunduk pada dialog yang terpasung oleh teks, tersandra oleh aplikasi sosial, atau justru menjadi budak gawai cerdas. Namun keluarga apapun masanya adalah wadah perjumpaan manusia wajah ke wajah”. (Fr. Bona)

“Sabda Sahaja”

“Sama seperti fajar, senjapun tak pernah ingkar terhadap sang surya. Ia selalu menunggu sang surya kembali ke dekapannya dengan penuh hangat. Begitu pula dengan kehidupan, ia tak pernah ingkar terhadap manusia. Akan selalu ada sebongkah harapan yang diiberikan kepada manusia tatkala ia rela dipinang untuk tidak menjual hidupnya demi segenggam gengsi. Ya gengsi terkadang beda tipis dengan harga diri, setipis kain sutra para pengantin. Lelaki tua dengan sebatang kretek itulah yang telah bersabda kepadaku, kepadamu, kepada kita melalui bolongnya gigi di sela-sela senyumnya. Karena kesahajaannya bersabda, bukan kepuasan material yang dapat menghantar hidup ke nirvana, tapi kesehajaan dalam menerima rencana sang hidup”. (Fr. Bona)

Switch Language >>