BAGIAN I ESTAFET FORMATIO: PERIODE AWAL SEMINARI TINGGI DIDIRIKAN

PENGANTAR
          Pada tanggal 15 Agustus 1936, Seminari Tinggi Santo Paulus didirikan oleh Vikariat Apostolik Batavia, Mgr. P. Willekens, SJ di Muntilan. Kebijakan beliau ini didasari oleh situasi umat di Vikariat Batavia yang terus bertambah dan jumlah siswa Seminari Menengah pun bertambah. Para siswa Seminari itu banyak yang bergabung dengan kongregasi-kongregasi yang ada saat itu karena memang belum ada suatu lembaga pendidikan calon imam diosesan. Bagi Mgr. P. Willekens, SJ, imam diosesan adalah tulang punggung Gereja lokal. Oleh karena itu, beliau akhirnya memutuskan untuk mendirikan Seminari yang mendidik para calon imam diosesan. Dengan mendirikan Seminari Tinggi St. Paulus ini, Mgr. Willekens, SJ berharap bahwa Gereja Katolik di Indonesia akan menjadi Gereja lokal yang mandiri. Kemandirian ini dibutuhkan agar Gereja Katolik dan karya misi di Indonesia tetap dapat berdiri dan teguh dalam mewartakan karya keselamatan Allah. Para imam diosesan yang menjadi tulang punggung Gereja lokal ini diharapkan dapat menjadi penerus rasul-rasul yang handal dalam menggembalakan umat Katolik Indonesia.

          Pada awal berdirinya, Mgr. Willekens, SJ menunjuk Pater Rickevorsel, SJ sebagai rektor pertama Seminari. Setelah itu, Seminari Tinggi mulai berziarah dalam mendidik para calon imamnya sebagai imam diosesan yang peka zaman dan tangguh dalam mewartakan Injil. Hingga kurun waktu 82 tahun (1936-2018), Seminari Tinggi St. Paulus telah mengalami pergantian rektor sebanyak 18 kali. Tulisan ini kiranya hendak menelusuri kembali jejak-jejak formatio para calon imam diosesan Seminari Tinggi ini berdasarkan kebijakan-kebijakan yang diberikan oleh para rektor tersebut. Sumber-sumber yang digunakan adalah buku-buku kenangan peristiwa dies natalis Seminari Tinggi yang ke-25, 40, dan 64 tahun. Selain itu, sumber-sumber lain berupa tulisan Romo Darmawijaya, Pr mengenai proses formatio yang beliau kenal dan alami dari beberapa rektor selama beliau menjadi bagian staf Seminari Tinggi St. Paulus. Semoga tulisan yang merupakan rangkuman sejarah formatio ini dapat menjadi bahan refleksi bagi formatio Seminari Tinggi dalam menatap masa depan Gereja Katolik Indonesia.

I. Periode awal Seminari Tinggi dilahirkan (1936-1948)

a. Pater L.v. Rickevorsel, SJ (1936-1938)
          Pater Rickevorsel, SJ adalah peletak dasar pendidikan Seminari Tinggi St. Paulus. Sebagai Presiden I (sebutan rektor waktu itu), ia berjuang keras dalam membangun situasi yang baru itu. Cita-cita dirumuskan dengan apik dan rapi: membangun Gereja Kristus di bumi Indonesia. Tepat, 15 Agustus 1936, berdirilah Seminari Tinggi di Muntilan dengan lima orang Indonesia berjubah putih yang bertekun memulai hidup baru.
          Satu tahun berikutnya, empat orang lulusan Seminari Menengah ikut bergabung. Akhirnya, tahun 1938, keluarga Seminari Tinggi menjadi 16 orang. Semakin berkembangnya komunitas ini menuntut dikembangkannya semangat persaudaraan yang semakin matang dan dewasa. Di samping itu, pertambahan keluarga menuntut rumah yang lebih luas. Mertoyudanlah yang dituju, meskipun tempat itu seharusnya diperuntukkan untuk Seminari Menengah. Perpindahan tempat ini juga diikuti perpindahan pimpinan; Pater Rickevorsel, SJ digantikan Pater H. Muller, SJ.

b. Pater H. Muller, SJ (1938-1943)
          Pater H. Muller, SJ melanjutkan apa yang telah dibangun oleh Pater Rickevorsel, SJ. Pater Rickevorsel, SJ kembali ke Eropa. Untuk sementara, dalam penyelenggaraan pendidikan calon imam, Pater H. Muller,SJ dibantu oleh Pater Berdsen, SJ, dan Pater M Becken, SJ.
Tahun 1940, kompleks Seminari Menengah selesai dibangun. Mau tidak mau, keluarga Seminari Tinggi harus menyerahkan kepada pemiliknya yang “sah”. Maka, Seminari Tinggi pindah di pinggir kali Code. Di sinilah tempat yang memang dipersiapkan untuk Seminari Tinggi. Walaupun sudah mendapat rumah sendiri, keluarga Seminari memang sempat berpindah maupun “mengungsi”. Maklum, waktu itu situasi perang. Seminari pernah pula “ngungsi” di Panti Rapih. Situasi demikian memberikan gemblengan dan tradisi mental yang tabah serta kuat dalam menghadapi segala kesukaran.
          Akhirnya, buah pertama pendidikan Seminari Tinggi dapat dinikmati dengan ditahbiskannya imam angkatan pertama pada 26 Juli 1942. Mgr. A. Soegjapranata yang menjadi Uskup Indonesia pertama sejak tahun 1940 berkenan memberikan tahbisan kepada 4 Romo Muda: H. Voogdt, Pr, S. Lengkong, Pr, dan adiknya W. Lengkong, Pr dari Manado serta A. Poerwadihardja, Pr.
          Situasi pada masa ini memang menegangkan. Tahun 1943, ditahbiskan lagi 4 imam diosesan pribumi: P. Dwidjasusanto, I. Harjadi, R. Sandjaja, dan Th. Harjawasita. Karena situasi, mereka ditahbiskan sebelum “waktunya”, sebab mereka belum menyelesaikan studinya. Mereka berjuang dan diutus ke pelosok Indonesia. Di antara romo tahbisan baru itu, ada yang menggantikan Pater H. Muller, SJ menjadi rektor Seminari Tinggi yaitu Rm. Th. Harjawasita, Pr. Pada masa pimpinan Pater H. Muller, SJ, walaupun dalam situasi yang susah, Seminari Tinggi tetap kokoh berdiri.

c. Rm. Th. Harjawasita, Pr (1943-1948)
          Tidak jauh berbeda dengan masa kepemimpinan Pater H. Muller, SJ, pergulatan perang masih menjadi masalah utama dalam formatio. Pemerintah Jepang membatasi kegiatan romo-romo asing. Bantuan umat sangat mendukung formatio Seminari Tinggi (suster-suster Panti Rapih dan umat pada umumnya). Tahun 1944 keluarga Seminari sempat menempati bekas asrama Budi Utama di Sindunegaran. Dalam situasi sulit itu, karya ilahi tetap berjalan, Seminari Tinggi tetap menghasilkan imam-imamnya.
          Pada tahun 1945, keluarga Seminari Tinggi berpindah dari Sindunegaran dan menumpang di kolese Jesuit, Kotabaru. Semangat kemerdekaan menyelimuti para ‘romo-romo mudha’ (frater, red) dalam mengolah panggilan. Kiranya yang juga patut dicatat dalam masa ini adalah tentang tahbisan imam pada tahun 1946. Karena hubungan Seminari dengan Mgr. A. Soegjapranata, SJ terhalang maka tahbisan imamat dilangsungkan di Malang oleh J.M. E. A. Alberts, O. Carm. Perjalanan memakan waktu 20 jam dengan bus kecil. Dalam perjalanan itu, bus kecil itu terguling dan menyebabkan seorang calon tertahbis patah tangannya. Sungguh pengalaman pahit! Tetapi, inilah pengalaman dalam rangka pembangunan Gereja.
          Pada tahun 1947 tahbisan romo-romo mudha diadakan di Yogyakarta. Mereka yang ditahbiskan adalah Rm. Th. Puspasugondo, Pr dan Rm. J. Darmayuwono, Pr. Tahun 1948, setelah berhasil melewati masalah-masalah sulit itu, Rm. Th. Harjawasita, Pr meletakkan jabatan dan digantikan Rm. Adrianus Djajaseputra, SJ.

“Imam Diosesan adalah tulang punggung Gereja lokal. Harapannya, dengan mendirikan Seminari Tinggi St. Paulus ini, Gereja Katolik di Indonesia akan menjadi Gereja lokal yang mandiri”

Mgr. P. Willkens, SJ

Vikariat Apostolik Batavia, Pendiri Seminari Tingi

Switch Language >>