Minggu, 11 Oktober 2026, suasana kebersamaan tampak menyelimuti Komunitas Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan. Sejumlah Romo Staf, Suster, dan para Frater mengisi waktu kebersamaan dengan menonton bersama (nobar) film horor bertema iman Katolik, Kuasa Gelap 2: Perjanjian Darah, di dua lokasi berbeda, yakni XXI Sleman City Hall dan Empire XXI Cinema.
Kegiatan nonton bersama ini menjadi semakin istimewa berkat apresiasi tiket gratis yang diberikan oleh produser film Kuasa Gelap bagi komunitas seminari yang dapat digunakan pada 8–11 Oktober 2026. Antusiasme yang tinggi dari para Frater, Suster, dan Romo ini sekaligus menjadi bentuk dukungan nyata terhadap perkembangan industri perfilman berlatar belakang iman Katolik di layar lebar Indonesia.
Antusiasme Komunitas Seminari Tinggi Kentungan tidak berhenti sekadar di dalam studio bioskop. Selepas penayangan, para Frater menyempatkan diri untuk berdiskusi, saling membagikan apresiasi, serta menyampaikan kritik membangun dalam suasana yang santai dan informal.
Dari sudut pandang teologis dan pastoral, beberapa Frater menilai bahwa film ini berhasil menyajikan narasi yang baik dan sejalan dengan ajaran Gereja Katolik, khususnya dalam menggambarkan praktik ritus pengusiran setan (eksorsisme). Secara dogmatis, film ini dinilai tidak menyimpang dari koridor iman yang diajarkan kepada umat.
Kendati demikian, catatan kritis secara internal turut disampaikan, terutama terkait aspek estetika sinematik, seperti unsur horor yang dinilai konvensional serta beberapa eksekusi akting yang dirasakan kurang natural. Seluruh catatan apresiasi dan kritik ini diposisikan secara internal sebagai bahan refleksi dan permenungan pribadi maupun kelompok.
Lebih dari sekadar hiburan menegangkan, “Kuasa Gelap 2: Perjanjian Darah” mengajak para penonton untuk menyelami makna mendalam di balik penderitaan dan kesengsaraan hidup manusia. Motif “perjanjian darah” yang merepresentasikan insting manusia demi meraih kemuliaan dan harta instan memicu permenungan etis: bagaimana seharusnya manusia menyikapi setiap pergumulan hidup?
Dalam narasi reflektifnya, realitas dunia yang tidak terlepas dari kejahatan dan dosa kerap menggoda manusia untuk menempuh jalan pintas, termasuk praktik okultisme demi kelancaran rezeki. Padahal, jalan pintas semacam itu justru melipatgandakan dosa. Umat manusia senantiasa dipanggil untuk menjalani hidup melalui jalan perjuangan dan pengorbanan yang sejati.
Film ini memberikan kontras yang tajam antara dua jenis pengorbanan. Kuasa gelap menuntut pengorbanan destruktif yang berujung pada kematian dan kebinasaan, sementara kuasa Allah menuntut pengorbanan penuh kasih yang tertuju pada keselamatan serta kehidupan kekal. Perjalanan hidup di dunia dipahami sebagai proses ziarah yang tak pernah instan, hingga akhirnya setiap jiwa menghadap Sang Pencipta.
LERH






