Sabtu, 27 Oktober 2018
         Embun pagi mengintip dari balik rindang dedaunan. Seulas senyuman tiap peserta menandakan kesan mendalam. Perbedaan hadir memberi keindahan dan rekatnya persahabatan. Hari kedua perhelatan Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda disambut dengan pemantik mimpi “Menuju Zaman Baru”. Udar rasa seorang Savic Ali, founder dan editor kanal website: Islami.co, memperkaya khasanah seni bermedia sosial secara cerdas, bijak dan bertanggungjawab. Ia mengajak setiap orang muda untuk berani memberi dampak sosial yang positif bagi masyarakat, terutama melalui konten-konten publikasi yang mengedukasi masyarakat dan menepis berita hoax yang penuh manipulasi.

 

        Usai disegarkan dengan cara-cara jitu menjadi pengguna media sosial yang baik, para peserta semakin dilengkapi dengan perspektif isu-isu kebangsaan yang dikemas dalam berbagai macam workshop. Mulai dari workshop dunia politik dan kaum muda hingga pembahasan tentang modus dan bahaya kekerasan seksual, para peserta asyik bergelut dengan dunia pemikiran, fenomena, realita, dan refleksi kritis. “Saya merasa bangga bisa mengikuti workshop isu-isu kebangsaan. Secara pribadi, saya jadi lebih aware dengan keadaan lingkungan masyarakat saya sendiri”, ungkap salah seorang peserta dengan berkobar-kobar.

 

 

 

 

            Selain itu, para peserta juga diajak untuk membuat rumusan komitmen yang konkret bagi bangsa Indonesia. Mereka dibagi ke dalam forum wilayah mulai dari wilayah Solo (Solo, Wonogiri, Sragen, Sukoharjo, Karanganyar, Klaten, Boyolali), Yogyakarta (DIY), Magelang (Magelang, Temanggung, Kota Magelang), dan Semarang (Kota Semarang, Kab. Semarang, Kendal, Pati, Jepara, Demak, Kudus, Grobogan, Kota, Salatiga). Sejumlah komitmen dibuat sesuai dengan konteks budaya dan keprihatinan yang terjadi di wilayah mereka masing-masing. “Kami berharap niat-niat yang sudah dibuat tidak hanya berhenti pada wacana. Tetapi sungguh bisa berdampak positif bagi lingkungan tempat kami tinggal”, udar salah seorang peserta wilayah Magelang.

 

 

 

 

 

             Selanjutnya, para peserta berdinamika dalam kegiatan dolanan anak. Dolanan anak ini menjadi sarana bagi mereka untuk kembali mengingat masa-masa kecil sekaligus memberi penghargaan pada warisan budaya dan kearifan lokal yang tumbuh, khususnya di bumi Jawa. Akhirnya, perhelatan srawung malam terakhir ini ditutup dengan Gelar Budaya yang sangat meriah dan memotivasi para peserta untuk terus melestarikan kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Indonesia. Tanpa hadirmu dan hadirku Indonesia tiada.

 

 

 

 

 

Fr. Fikalis Rendy Aktor (Dokumentasi Srawung 2018)
Switch Language >>