Minggu, 28 Oktober 2018
      Jumpa Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda hari ketiga menjadi momen refleksi sejarah antar generasi. Bertepatan dengan 90 tahun Sumpah Pemuda, percik api perjuangan sejarah orang-orang muda merebut kemerdekaan kembali dihadirkan dalam deklarasi komitmen kebangsaan perwakilan orang muda lintas agama. Haru biru semangat nasionalisme: bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu yakni Indonesia, dipatrikan kembali dalam kesadaran khas generasi milenial Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda. “Karena kami ini termasuk generasi milenial, sumbangan kami untuk bangsa, salah satunya menjadi penyebar kebenaran bukan berita hoax”, ungkap salah seorang peserta yang aktif di komunitas Gusdurian Yogyakarta. Persis semangat menjadi pembawa kabar kebaikan dan kebenaran itu pulalah yang disampaikan oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam perayaan ekaristi penutupan. “Kalau kita merasakan udara yang berhembus, rasanya kita menghirup kesegaran. Maka, saya mengajak teman-teman sekalian untuk juga berani seperti udara yang menghembuskan kebaikan-kebaikan dan berita kebenaran kepada orang-orang di sekitar kita”, ulas Mgr. Rubiyatmoko dalam khotbah.

 

 

 

 

         Usai merayakan ibadah masing-masing, seluruh peserta Srawung diajak untuk merumuskan rencana tindak lanjut dalam empat forum wilayah: Kedu, Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang. Ada banyak rencana tindak lanjut yang dibuat. Misalnya, beberapa program dari forum wilayah Yogyakarta disepakati yakni membuat jejaring penghubung antar komunitas dengan mengelola akun Instagram: srawungjogja dan WhatsApp: Jogja Muda Srawung, kreasi video/film pendek tentang rekam jejak kegiatan lintas iman, aksi berita positif untuk konten medsos masing-masing pribadi, angkringan/nonkrong lintas iman, program capacity building untuk studi mendalam tentang nilai-nilai pluralitas, dan juga rencana kerjasama dan kunjungan ke komunitas-komunitas lintas agama sekitar Yogyakarta. Dari forum wilayah Kedu, para peserta berkomitmen untuk melakukan aksi kampanye positif dengan mengunggah konten pluralitas lewat medsos dan juga kumpul/nongkrong bersaudara dalam lintas agama. Tidak kalah seru, dari forum wilayah Semarang, mereka mencoba membuat “group offline” yakni kegiatan kumpul bersama sebagai usaha saling mengenal antar komunitas lintas agama secara personal. Selanjutnya, dari forum wilayah Surakarta, para peserta membuat beberapa komitmen kreatif dan komunikatif yakni kegiatan pagelaran budaya, foodfest, dan camping lintas agama. Harapannya, kegiatan-kegiatan tersebut juga berdampak bagi lingkungan sosial mereka tinggal untuk semakin merawat kebhinnekaan.

 

 

            Hari terakhir temu Srawung ini kemudian dipungkasi dengan selebrasi. Suasana melebur dalam bingkai satu saudara sebangsa dan setanah air terlihat sangat cair. Alunan musik band pengiring lagu-lagu persahabatan dan lagu-lagu nasional kian menghentak mengajak seluruh peserta melonjak-lonjak kegirangan sekaligus haru akan kembali ke komunitas masing-masing. Namun demikian, rasa haru akan berpisah tidak serta merta mengakhiri perjumpaan lintas agama dalam hidup sehari-hari. Dalam Konferensi Pers Penutupan Srawung Orang Muda, sejumlah perwakilan peserta dari lintas agama, bersama Mgr. Robertus Rubiyatmoko (Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang dan Rm. Aloysius Budi Purnomo, Pr (Ketua Komisi Hubungan Antar-Agama Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang), menyampaikan kesan mengikuti Srawung dan pesannya sesudah acara Srawung. Rm. Aloysius Budi Purnomo, Pr dengan jelas menyampaikan bahwa Komisi HAK KAS akan terus mengawal komitmen rencana tindak lanjut yang sudah dibuat oleh masing-masing forum wilayah. Begitu juga dengan yang disampaikan oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko: “Saya gembira dan terharu mengikuti dinamika Srawung ini. Saya berharap momen kekeluargaan, kerukunan hidup bersama sebagai satu bangsa tetap terus terjalin dalam hidup sehari-hari, khususnya kaum muda yang berani hadir sebagai pembawa perubahan dalam memandang keberagaman”.

 

 

 

        Akhirnya, sebagai puncak momen merayakan keberagaman ini, usai menikmati suguhan sendratari “Klawung” dari FKT Kulonprogo, seluruh peserta mendeklarasikan langkah pemuda yang berbunyi demikian:
                Kami, kaum muda Indonesia, lintas kepercayaan dan agama,
melihat kebhinnekaan sebagai realita yang kami terima dengan gembira dan siap menanggungnya.
Kami, kaum muda Indonesia, lintas kepercayaan dan agama, bersepakat bahwa Indonesia adalah rumah bagi semua dan siap mewujudkannya.
Kami, kaum muda Indonesia, lintas kepercayaan dan agama, adalah jalinan sahabat bagi sesama dan siap menghidupinya.
 
Semarang, 28 Oktober 2018, pada Tahun ke-90 Sumpah Pemuda.

 

 

(Fr. Fikalis Rendy Aktor, Dokumentasi SRAWUNG)
Switch Language >>