Bebal vs Buka Hati

Yonas Bastian

      Pernahkah kita merasa bebal dalam hidup ini? Atau kepada orang yang tidak mau percaya, ngeyel, sering kita katakan pada mereka: “dasar bebal!” Bebal di sini tidak hanya berarti tidak mudah percaya, tetapi juga tidak cepat menanggapi. Bisa jadi orang begitu keras hati dan keras kepala sehingga tidak mau percaya. Atau, kemungkinan lain, orang tidak mau percaya karena memiliki persepsi yang kurang, mengingat kata bebal seringkali dekat dengan kata bodoh atau tidak berpikiran tajam. Dengan demikian, bebal memiliki arti yang luas.

     Injil hari ini memperlihatkan pada kita bahwa ada kebebalan dalam diri orang Yahudi yang bertanya pada Yesus. Mereka ingin meminta ‘bukti’ dari Yesus kalau Ia adalah seorang Mesias. Tetapi apa kata Yesus? Yesus telah mengatakan dan menunjukkan semua bukti, dan Ia juga mengecam ketidakpercayaan mereka. Kata ‘tidak percaya’ dikatakan Yesus dua kali (ayat 25 dan 26). Dalam Injil tampak bahwa Yesus pun menangkap ketidakpercayaan orang Yahudi. Hanya saja, kebebalan mereka bukan merupakan kebebalan secara intelektual karena seperti yang kita ketahui, orang-orang Yahudi yang suka bersoal jawab dengan Yesus seringkali hanya ingin menguji Yesus. Maka dari itu, bisa dikatakan kebebalan orang Yahudi adalah kebebalan hati, karena mereka tidak mau menerima semua bukti yang ditunjukkan Yesus.

    Yesus menegaskan bahwa siapa yang tidak percaya kepada-Nya, tidak akan masuk ke dalam ‘kawanan-Nya’ (ayat 26). Karena kebebalan hati orang Yahudi, mereka tidak masuk sebagai umat pilihan dan tidak mendapat jaminan kehidupan kekal (ayat 28). Dari situ kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang ingin masuk ke surga sudah sepantasnya mau membuka hatinya untuk percaya pada Tuhan, tidak cukup hanya mengerti Tuhan dengan akal budi saja. Maka dari itu, mari kita membuka hati kita untuk menerima Tuhan.

   Di masa pandemi Covid-19 seperti ini, kita diajak untuk mau membuka hati pada situasi konkret hidup kita. Tetap tinggal di rumah, misa online, bekerja dari rumah, belajar dari rumah, menjadi saat untuk membuka hati pada Tuhan melalui kepedulian terhadap sesama. Semua cara baik yang diupayakan itu membuktikan iman kita. Kalau kita bebal dan hanya menuruti kemauan kita, bukan hanya kita saja yang terkena dampaknya, tetapi orang-orang di sekeliling kita. Maka, mari kita mau membuka hati, mau bersolider pada sesama kita.

Sumber gambar:

https://cdn.idntimes.com/content-images/post/20160621/alvernas-cover-ab1e794432dc1271cb8710a967fd0d6e_600x400.jpg

 

 

 

Switch Language >>